Bebek Madura

Saat masih tinggal di bumi khatulistiwa, saya jarang menikmati olahan daging bebek, angsa, itik dan teman-temannya. Jijik! Sejak kecil saya terbiasa menyaksikan perilaku kehidupan unggas berkaki selaput itu yang enggan sekali menjunjung tinggi nilai-nilai kebersihan! Hadeuuh :p


Gara-gara tertular suami, kuliner bebek kini menjadi salah satu menu favorit kami. Entahlah! Kenangan buruk tentang tingkah laku bebek yang jorok di masa lalu sirna begitu saja. Selama mereka tak melakukan perbuatan tercela itu di depan mata, saya merasa baik-baik saja menyantapnya, hehehe...

Di Cikarang ini, saya baru menyadari ternyata olahan kuliner bebek 'dikuasai' oleh suku Madura. Meski tak sedikit restoran atau rumah makan modern yang menyediakan menu ini sebagai andalan, tetap saja cita rasa olahan bebek memang lebih maknyus jika diolah dengan resep ala Madura.

Saya pernah bertanya pada salah satu pemilik lapak yang menjual masakan bebek, kenapa setiap lapak memiliki citarasa berbeda meski bahan dasarnya sama. Menurutnya, beda daerah asal koki, beda pula cara mengolahnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari pulau Madura.

Dari beberapa rumah makan yang mengandalkan menu bebek dalam daftar menunya, tak sedikit yang membuat kami kecewa. Mulai dari daging bebek yang alot, sambal yang aneh dan kurang pas, bumbu yang miskin sehingga aroma bebek masih terdeteksi, hingga bebek yang terlalu sedikit dagingnya. Hal yang jarang terjadi jika beli di lapak bebek Madura di sepanjang Tegal Gede, Kalimalang.

Hm, mungkin di antara pembaca ada yang mau berbagi resep bebek maknyus ala Madura? Sebab saya begitu jatuh cinta dan tergila-gila dengan rasanya!

CikPus, 14 Desember 2014

foto:google image


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik