Surat untuk Anakku

Kalau korespondensi masih terjadi, mungkin anak yang wajib berkirim surat pada orang tua. Tapi, kali ini saya justru melakukan hal sebaliknya. Saya menulis surat untuk putri saya sendiri, Nayla. Hari gini masih surat-suratan? Jadul banget ya?


Ini bukan karena saya terlalu rajin atau sedang mengajarkan teknik surat-menyurat padanya. Ada satu event menulis di salah satu harian ternama yang mengharuskan saya melakukan ini; menulis
surat untuk anak. Boleh anak kandung, anak angkat, menantu dsb. Isinya bisa tentang harapan, keluhan, cinta, pengakuan dosa dan lain-lain. Intinya adalah menulis hal yang selama ini tak sanggup diungkapkan secara verbal pada anak.

Saya pun mulai mengetik, kata demi kata. Terlalu asyik menulis membuat surat saya jadi terlampau panjang. Melebihi 250 kata maksimal seperti syarat yang ditetapkan.

Saya baca ulang. Mungkin ada hal-hal tak penting yang terlanjur ditulis dan tak perlu disampaikan. Tapi setelah membaca hingga akhir, saya rasa 250 kata memang terlalu singkat untuk mencurahkan semua yang tak pernah saya sampaikan padanya.

Cerita kebersamaan kami sebagai ibu dan anak jika ditulis mungkin takkan ada habisnya. Dan saya akhirnya sadar, bahwa selama ini ternyata saya kurang berbagi perasaan padanya. Termasuk banyak dosa juga. Dosa yang tak terungkapkan. Kadang tanpa ada maaf di dalamnya. 

Anehnya, ia tetap mencintai saya seperti sedia kala. Mencium pipi saat hendak tidur meski sebelumnya saya sudah marah besar padanya. Memeluk erat sambil mencium kening meski cubitan saya masih berbekas di pinggangnya akibat terlalu gusar dan tak bisa menahan sabar. 

Buah kemarahan untuk hal-hal tak penting, karena kuota internet habis dipakai games online atau jilbab dan kaos kakinya yang berserakan. Bahkan hanya gara-gara dia tak hapal perkalian!

Padahal itu semua tak lebih berharga dibanding dirinya. In the end, this letter make me realize, that i'm not the best mother for her! But i try to...

Maafkan Bunda ya, Nak?

Cik Pus, 06 Desember 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik