Mahalnya Semangkuk Sambal

Beberapa waktu lalu saat makan siang suami mengeluh kalau sambal tomat yang saya buat sama sekali tak pedas. Tingkat kepedasan kami selama ini memang tak sama. Menurut saya sambal itu sudah terasa pedas. Saya memasukan 3-4 biji cabe jablay di dalamnya selain cabe merah dan rawit hijau. Dibanding sambal cabe hijau dan cabe merah saja ini sudah termasuk 'nendang'.

Tapi rupanya nendangnya tak terasa buat suami. Dilema kalau sudah begini. Kategori pedas bagi
suami itu artinya saya harus siap-siap mencret keesokkan harinya.

Mungkin suami tak tahu kemarin harga cabe sempat melambung tinggi. Membuat saya harus pintar membagi uang belanja agar tak hanya cabe yang terbeli. Sebab harga setangkai cabe merah sampai 400 rupiah! Sebungkus kecil isi 10 tangkai dijual 4000 oleh tukang sayur. Begitu juga harga sebungkus cabe rawit isi sekitar 20 biji.

Untuk semangkok sambal yang pedas saya membutuhkan sebungkus cabe merah, sebungkus cabe jablay, sebuah tomat, dua siung bawang merah dan bawang putih, belum lagi garam, gula dan minyaknya. Kalau ditotal-total harganya lebih dari 10 ribu rupiah! Itu untuk sambal saja, belum yang lain-lain.

Alhamdulillah, suami masih diberi kemudahan rejeki. Itu saja sudah membuat saya kalang kabut menyiasati uang belanja. Lalu bagaimana dengan saudara kita yang masih kekurangan di luar sana?

Saya hanya bisa berdoa, semoga mereka pun diberi kemurahan rejeki pula. Sebab jika kenaikan harga disikapi dengan caci maki terhadap pembuat kebijakan, rasanya hanya akan membuang energi dan membuat sakit hati saja.

Mudah-mudahan pemerintah bisa mengontrol harga kebutuhan pangan rakyatnya menjadi lebih baik di kemudian hari. Aamiin!

Buat para suami, sebelum protes sambal istri Anda kurang pedas, tolong cek harga cabe di pasar dulu ya? Hehe..^_^

CikPus, 04 Desember 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik