Batu yang Menjadi Jamur

Saya pikir cuma suami saya yang berperilaku aneh. Hal ini sudah terjadi sejak beberapa bulan belakangan. Setiap menelepon bertanya kabar ke kota kelahiran saya Sambas, selalu menyelipkan
pertanyaan serupa, "Tanyain batu dong, ada gak?"

Maksudnya batu permata untuk perhiasan atau koleksi. Abang dan adik saya yang kena getahnya. Dititah mencari batu permata itu  kapan dan di mana saja.

Saat mudik lebaran kemarin, ia begitu senang. Mungkin karena tak tahan melihat tingkah menantunya yang sedang 'gila' batu, Bapak dengan sukarela menghadiahkan sebuah cincin dengan batu berwarna ungu susu salah satu koleksi beliau. Hingga kini cincin itu setia melingkar di jari tangannya.

Ternyata tak cukup sampai di situ. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, suami saya sempat-sempatnya mampir di pinggir jalan kota Singkawang untuk bertransaksi dengan adik ipar yang dengan senang hati membawakannya macam-macam batu permata. Ada yang putih, coklat, merah, ungu dll. Sepertinya ia punya hasrat terpendam, jadi juragan batu permata. Saya jadi curiga, jangan-jangan ia akan buka lapak batu di rumah! Belakangan ia malah keranjingan beli batu permata mentah yang belum dipotong, diamplas atau digosok sendiri. Haddeuh...

Sekarang baru sadar, ternyata suami saya anehnya tak sendirian. Di kota tempat saya tinggal ini, lapak  batu permata menjamur bak cendawan di musim hujan. Di pinggir jalan, di pasar kaget, pasar malam, pameran, dan juga tempat wisata.

Herannya lapak-lapak batu itu selalu saja dikerubungi pembeli. Meski tak ada garansi bahwa batu yang mereka jual adalah batu asli.

Konon, kabarnya motif pria memakai batu ini bermacam-macam. Ada yang ikutan trend. Sebagai perhiasan. Buat gaya dan gengsi-gensian sepertinya artis-artis juga iya. Lebih parah yang memiliki cincin batu ini untuk tujuan mistis. Agar cepat kaya, memudahkan urusan, pengasihan dan lain sebagainya.

Hm, motif suami saya masuk yang mana ya? #mikir

Cikarang Pusat, Nov' 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik