Satu Buku Sebelum Mati?

Akhir-akhir ini saya merasa diganggu oleh sesuatu. Sesuatu yang membuat saya susah tidur. Apalagi jika melihat karya teman-teman sesama penulis sudah banyak yang dibukukan. Beberapa di antaranya dengan senang hati saya beli. Sebagai bentuk apresiasi.

Lalu kapan waktu indah itu tiba buat saya? Melihat karya yang cuma terserak di folder My Draft tiba-tiba saya ingin meniru jejak mereka. Membuat buku. Ah, indahnya. Saya berangan-angan. Kalimat afirmasi 'Satu buku sebelum mati' kembali tergiang.


Tapi, saya juga punya mimpi lain. Saya ingin sekali buku pertama saya diterbitkan oleh penerbit yang setidaknya punya nama. Ketinggiankah mimpi saya ini? Well, kata orang bermimpilah setinggi langit. Sehingga kita tak menggunakan tangga paling rendah untuk menggapainya.

Demi memperbaiki kualitas tulisan itulah saya rela mengikuti workshop, ikut kelas menulis, juga bergabung dengan komunitas menulis yang ada. Berusaha menyisihkan waktu dan doku untuk belajar dari karya penulis ternama, juga penulis baru lewat buku yang mereka terbitkan.

Tapi, sudah pantaskah karya saya dibukukan? Bagaimana kalau nanti tak ada yang membaca? Saya tak berpikir jauh tentang laku tidaknya buku tersebut. Sudah mau baca karya saya saja sudah syukur alhamdulillah...

Kalau sudah begini penyakit tak PD saya pasti kambuh lagi...hiks..

Jadi sekarang targetnya mau bikin buku apa naklukin media dulu? Embuhlah...

#curhatjumat, 28 Nov 2014



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik