Pekerjaan Wanita Ternyaman di Dunia

 
Jujur, kadang kalau sedang jenuh di rumah, saya suka iri dengan teman-teman yang bekerja. Sepertinya mereka begitu bebas, dalam artian memiliki kebebasan secara finansial. Beli tas atau baju bagus bisa kapan saja. Beli kosmetik mahal tak perlu merayu suami segala. Khusus untuk saya pribadi, jika saya bekerja, mungkin saya akan sangat merdeka memborong semua buku best seller yang ada di toko buku!
Saya bukan sedang mengeluhkan nafkah dari suami tak cukup. Tidak! Alhamdulillah, sejauh ini suami sudah lebih dari cukup menafkahi keluarga kecil kami. Hanya saja, uang dari suami tentu saja berbeda 'rasanya' dengan uang yang dihasilkan sendiri. Paling tidak, dengan bekerja dan memiliki uang sendiri, saya bisa 'melanggar' peraturan yang biasa saya terapkan dalam mengelola keuangan keluarga yang sepenuhnya diamanahkan suami di pundak saya sebagai istri yang bisa dipercaya.

Nah, saat mengikuti bintek (Bimbingan Teknis) di Pusat Kesehatan Masyarakat Sukamahi mewakili Desa Hegarmukti minggu lalu, yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kab. Bekasi, sedikit banyak saya dikondisikan seperti wanita bekerja.

Selama delapan hari pelatihan, tentu  stabilitas urusan rumah tangga (halah) agak terganggu. Memaksa saya harus bangun jauuuuh sebelum azan Subuh--hal yang tak setiap hari saya lakoni-- agar urusan dapur, sumur dan kasur beres tanpa sisa. Begitu juga dengan urusan anak dan suami, jangan sampai mereka jadi terlantar karena kegiatan outdoor saya ini.

Pukul 07.10 WIB, saya sudah berangkat. Menembus kemacetan daerah Cikarang Pusat. Ketar-ketar sedikit berharap Pak Polisi enggan melakukan razia karena kami tak memiliki kelengkapan berkendara. Belum lagi teman yang enggan memakai helm, takut jilbabnya acak-acakan sesampai di tujuan.

Lalu seharian saya dan teman-teman lain yang juga mewakili desa berbeda, tenggelam dengan materi seputar kesehatan ibu dan anak, gizi seimbang, pedoman hidup sehat, praktek menghitung nilai gizi, diskusi kelompok, presentasi, review materi, pre dan post test dll.

Pukul satu siang kami pulang dalam keadaan capai, panas, lapar karena jatah makan siang saya bawa pulang. Kadang macet juga karena bertepatan dengan karyawan atau PNS yang makan siang di luar.

Sesampai di rumah, biasanya saya sudah teramat lelah untuk melanjutkan kegiatan beres-beres rumah sisa aktivitas Nayla dan suami seperti cuci piring, mengangkat jemuran atau menyeterika pakaian. Saya memilih tidur siang, mengistirahatkan badan dan pikiran. Menyebabkan aktivitas menulis juga terhenti, karena waktu saya yang tersisa khusus saya dedikasikan untuk anak dan suami, sebagai ganti rugi karena telah meninggalkan mereka sejak pagi hingga siang hari.

Dan sampai hari terakhir, saya benar-benar merasa bebas merdeka. Dan sadar bahwa menjadi ibu rumah tangga ternyata pekerjaan paling nyaman di dunia. Setiap hari tak perlu dikejar waktu saat mengurus rumah. Saya bebas menentukan kegiatan sendiri di rumah. Tak harus masak subuh-subuh yang membuat anak dan suami harus makan dengan sayur dan lauk yang dingin. Tak perlu bermacet-macet ria. Tak khawatir disemprit polisi. Tak pusing terpanggang matahari dan mengisap debu jalanan saat pulang.

Ah, tiba-tiba saja saya merasa sangat bersyukur jadi ibu rumah tangga. Meski sebagian besar kegiatan dilakukan di rumah, tapi saya tak kehilangan hal lain sebagai aktualisasi diri sambil menjalankan bisnis ataupun hobi. Saya bisa mengikuti pelatihan menulis, kegiatan sosial kemasyarakatan, bergaul dalam sebuah komunitas bisnis, dan yang paling penting, tentu saja saya tak kehilangan waktu bersama keluarga. 

Lagipula, jika saya bekerja, belum tentu bisa mengikuti kegiatan lain di luar rumah.  Yang pertama tak punya waktu karena hari libur tentu saja saatnya family time. Yang kedua, badan saya bisa porak poranda jika diporsir dengan full kegiatan Senin-Minggu.

Sekali lagi saya katakan bahwa menjadi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan paling nyaman di dunia. Ada yang tak setuju pendapat saya?

Hegar Asri, 04 November 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik