Kemarin, 10 Tahun yang Lalu

20 November kemarin genap 10 tahun usia pernikahan saya dan suami. Jujur saya sedikit lupa. Bahkan saya mengucapkan Happy 10th Anniversary pada suami via SMS saja saat jarum jam sudah di angka 23.44 WIB. Kebetulan minggu ini suami giliran shift malam, jadi tak ada waktu untuk merayakan. Kami hanya saling mendoakan, meski sedang berjauhan.

 21 November 2004
Lagipula, kami bukan pasangan yang 'gila' dalam merayakan sesuatu. Hari lahir Nayla, saya atau
suami kadang terlewat begitu saja. Kalau sedang ada waktu luang, paling kami habiskan dengan wisata kuliner ke tempat makan yang belum pernah dikunjungi.

Pesta ultah? Tiup lilin? Sejak menikah, kami tak membiasakan itu. Meski kadang Nayla merengek minta hari lahirnya dirayakan seperti teman-temannya. Well, kalau pesta ulang tahun hanya berharap kado dari tetangga --yang kadang merepotkan mereka karena harus mengeluarkan dana tak terduga-- lebih baik tak usah saja.

10 tahun menikah, bagaimana rasanya? Bahagia sudah pasti, karena baru-baru ini saya dihadapkan pada kenyataan bahwa seorang teman harus bercerai karena alasan ketidakcocokan. Duh gusti? Begitu mudahnya mereka mengambil jalan yang dibenci Allah, tanpa mau bersusah payah mengupayakan mediasi.  Meskipun mereka merasa punya alasan kuat untuk melakukan itu, tetap saja membuat saya sulit menerima.

Bersyukur juga tak henti saya lantunkan karena paling tidak sepuluh tahun pertama ujian dalam pernikahan sukses kami atasi. Ujian berupa kekurangan materi, penerimaan kekurangan, juga ujian ketulusan dan ketidak percayaan pernah kami lewati. Jadi hari ini saya ingin melaksanakan pesan salah satu khulafaur rasyidin, bahwa resep langgengnya perkawinan adalah sering-sering mengingat indahnya hari pernikahan. Insya Allah, mudah-mudahan!

10 tahun tak terasa. Rasanya seperti baru kemarin saya jadi ratu sehari. Melempar daleman agar hujan tak datang mengganggu prosesi akad dan resepsi, yang saya lakukan demi menghormati kata tetua. Meski tetap saja hujan turun dengan derasnya satu jam jelang ijab kabul dilaksanakan. Ya iyalah, masak kuasa Allah menurunkan hujan dilawan pakai celana dalam? Hehehe...

Kemarin, 10 tahun yang lalu, saya resmi menjadi istri. Padahal jujur saat itu saya masih merasa terlalu muda untuk menikah (halaaah :p). Sebab masih banyak hal yang ingin saya lakukan, terutama menyelesaikan kuliah yang terbengkalai. Tapi, menolak pesona lelaki yang sungguh-sungguh mengajak saya mengarungi bahtera rumah tangga--di tengah maraknya 'penemuan' saya tentang lelaki yang enggan plus takut berkomitmen-- rasanya juga bukan perkara mudah. Lelaki yang saking groginya sampai mengucapkan lafazh akad nikah hingga 4x! Giliran dikasih contekan, baru deh lancar jaya, hadeeuhh...!

Dan kemarin, 10 tahun yang lalu saya, saya ingin membuat pengakuan, pssst, jangan bilang siapa-siapa ya? Bahwa saya...ah, sebaiknya tak diceritakan! Kasihan pembaca yang masih bujang dan perawan, hehehe...

CikPus, 21 November 2014



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik