Duitmu Duitku, Duitku Duitku!

Itu rumus yang berlaku untuk kepemilikan keuangan rumah tangga kami. Mungkin bagi para pria, rumus ini terdengar egois ya? Masak uang suami milik istri, sedang uang istri tak boleh dimiliki suami?
Setelah mendengar cerita teman di sana-sini, ternyata masih banyak pasangan yang bingung terkait
kepemilikan dan pengelolaan dana yang masuk dari pihak suami atau istri. Kadang jika melihat kondisi istri yang bekerja, ada beberapa suami--meski tidak semua--yang seperti merasa berhak atas harta yang dihasilkan istri.

Padahal sejatinya uang istri ya uang istri, suami tak berhak menikmati apalagi sampai memaksa atau mengklaim bahwa uang istri adalah kepunyaan suami. Tapi kalau disodorkan istri ya, jangan gengsi juga. Ambil saja, itu berarti rejeki Anda.

Saya sendiri, meski untuk modal usaha sejatinya pakai uang suami, saat memperoleh laba, suami tetap menghormati jerih payah saya membuat uangnya 'berkembang biak'. Biasanya uang itu saya gunakan untuk modal kembali. Atau kalau kebutuhan keluarga aman-aman saja, saya lebih cenderung menghabiskannya untuk membeli buku.

Membicarakan masalah uang memang wilayah yang sensitif, tapi ada baiknya dikomunikasikan agar tak terjadi saling klaim antara suami istri yang bekerja di kemudian hari. Sehingga tak perlu ada drama istri ngomel karena suami beli gadget kemahalan atau terlalu boros memenuhi kebutuhan pribadinya sehingga kebutuhan keluarga melulu istri yang memenuhi.  Atau suami yang merasa terbebani saat istri enggan berbagi gaji.

CikPus, 13 November 2014




 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik