Drama Seri dari India, Amankah untuk Akidah?



Padahal saya tak begitu maniak dengan drama India, entah kenapa putri saya, Nayla, malah sebaliknya. Hampir setiap malam setelah pulang mengaji, yang dipantengin selalu stasiun yang non-stop menayangkan drama seri dari negeri Shah Rukh Khan tersebut.
Awalnya saya kurang suka, mengingat serial yang disajikan sangat kental dengan nuansa keyakinan agama lain. Tapi, dibanding putri saya harus menonton sinetron made in Indonesia yang penuh cerita anak remaja dengan adegan cinta monyet beruk siamang dan orang utan, jadi saya putuskan untuk
mengalah. Meski untuk itu saya harus ikut menonton sebagai pendampingan atas pertanyaan juga penjelasan jika ada hal 'menyimpang’ yang patut diluruskan. Semacam adegan kesaktian para Pandawa, dewa-dewa dsb.

Nah, akibat menonton drama-drama tersebut saya jadi rajin surfing untuk mengilas balik sejarah. Duluuuuuu sekali, saat masih SD pernah nonton juga sih, tapi akibat himpitan ekonomi--halah-- sebagian besar ceritanya sudah hengkang dari kepala saya.

Nah dari browsing-browsing itulah, saya baru tahu kalau Raja Jalaludin dari Mughal yang menginspirasi drama Jodha Akbar adalah kakek dari Syah Jehan, pendiri Taj Mahal. Saya baru kenal dengan sosok Drupadi yang memiliki lima suami—tak terbayang repotnya or enaknya? Aghihihihi :p--. Saya juga baru sadar  dengan cerita Rama dan Shinta yang ternyata kisah mereka--jika direnungkan lebih dalam--bukanlah kisah cinta yang patut dijadikan teladan.

Ada sebagian orang yang melarang menonton drama made in India ini, karena menurut mereka bisa membuat akidah dan akhlak anak-anak muslim yang menontonnya ternoda. Well, menurut saya, anak-anak tak sejauh itu menafsirkan apa yang mereka tonton. Mereka hanya melihat adegan per adegan sebagai bagian dari fantasi, tidak sampai pada tahap meyakini.

Setidaknya itulah yang saya rasakan dulu. Meski sejak kecil terbiasa menonton film India yang menyembah tiga dewa dalam adegan-adegannya, tak lantas mengubah keyakinan saya--bahkan hingga kini--bahwa pencipta kita adalah Allah, Yang Maha Satu.

Wajar jika banyak ortu yang khawatir. Untuk itulah perlu adanya pendampingan saat menonton acara TV, agar orang tua bisa memberi penjelasan jika ada hal-hal yang sekiranya perlu untuk dijelaskan.

Dengan landasan iman yang kuat, sehebat apapun gempuran yang menghadang anak-anak kita lewat tontonan televisi, Insya Allah tak akan membuatnya lupa sholat dan lalai mengaji. Apalagi bakal jadi pelaku poliandri seperti Drupadi! Hadeeuh...

Rabbi ja’alni muqima sholati wa min dzurriyati...Aamiin!

 CikPus, 10 November 14  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik