Buku Murah, Menyenangkan Sekaligus Menyedihkan



Setelah minyak goreng berada di tetes-tetes terakhir, odol digulung sambil dipencet-pencet, hingga shampo dan pelembab yang diketuk berulang kali di telapak tangan agar isinya keluar, baru deh suami punya waktu mengantar saya belanja kebutuhan bulanan. Fiuuh, padahal bukan orang penting. Tapi sibuknya melebihi pejabat manapun! Entah sibuk ngapain, saya juga bingung! Capek deh!

Kami memutuskan untuk belanja di Sentar Grosir Cikarang. Sekalian membeli pesanan tiga buah
gadget, saya juga berencana membeli kado untuk tiga teman yang baru saja melahirkan. Agar tak buang waktu dan juga bensin kalau harus berpindah-pindah tempat belanja.

Daripada menunggu gerai resmi Samsung yang tak kunjung buka--menagih 16 GB memory card for free untuk setiap pembelian gadget merk mereka—kami memutuskan belanja di supermarket di lantai paling atas.

Begitu masuk, Nayla langsung gegap gempita kegirangan mengetahui di kiri deretan meja kasir, ternyata sedang digelar bazaar buku murah dari Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Langsung tangannya beraksi memilih dan mengambil buku-buku yang menarik hatinya untuk dibaca.

Dan jangan tanya kondisi emaknya! Saya ikutan kalap melihat buku-buku tebal seharga 200 ribu dijual hanya 40 ribu rupiah saja. Novel Lima Menara dalam versi bahasa Inggris hanya 20 ribu-an. Bahkan ada yang hanya dijual lima sampai 10 ribuan untuk buku bacaan anak.

Di tengah tumpukan buku murah, tiba-tiba saya tertegun. Ini dilema. Menyenangkan sekaligus menyedihkan. Saya—yang hobi baca—tentu saja sangaaaat menyukai buku asli yang dijual murah. Itu sangat berarti, lebih berarti dari kecupan bau jigong suami saat bangun tidur di awal hari.

Tapi saya juga suka menulis. Dan adalah hal yang wajar jika berharap karya saya suatu saat nanti—entah kapan—bakal mejeng di toko buku ternama. Apakah saya bisa menerima jika buku-buku saya hasilkan, mereka bandrol dengan harga yang lebih murah dari semangkok bakso? Aduhai, sakitnya tuh di sini!#nunjuk jari yang keriting

Yang penting kan royalti dah masuk! Iya sih, tapi tetap saja ada kesakitan batin yang sukar dijelaskan melihat karya yang sudah kita tulis berbulan-bulan, tidur tak nyenyak makan tak kenyang memikirkan apakah naskah novel/buku itu ditolak atau diterima penerbit, tiba-tiba harus melihatnya ‘tergolek’ tak berdaya dijamah tangan-tangan yang haus buku murah, seperti yang saya lakukan sekarang ini!

Hm, pantas saja penulis Indonesia jarang yang kaya! Belum lama terbit sudah dijual murah. Kalau tak dijual murah, ya dibajak dan dijual di pasar malam!

Jadi kesimpulannya, kalau mau kaya secara materi, jangan jadi penulis ya? Kecuali Anda mengharapkan bentuk ‘kaya’ yang lain seperti saya! ^_^

CikPus, 16 Nov 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik