BARFI, Film Unik dan Menyentuh

Jika Anda bosan dengan film India yang biasanya ber-setting luar negeri, hedonis, tak bisa ketemu pohon atau tiang dikit, langsung menari berputar-putar serta berdendang di bawahnya, saya rekomendasikan untuk mengoleksi film ini sebagai daftar film yang wajib Anda tonton. Saya baru menyaksikannya malam minggu kemarin padahal film ini sudah rilis dua tahun lalu. (Hm, ke mane aje lu? Dasar kudet!)

Sejak awal saya dibuat penasaran dengan endingnya. Alur cerita yang kadang mundur, maju, mundur lagi, maju lagi membuat saya bertahan hingga film arahan Anurag Basu ini selesai diputar.


Film ini mengisahkan tentang hidup seorang lelaki bisu tuli bernama Barfi (Ranbir Kapoor). Meski
memiliki indera tak sempurna namun Barfi adalah sosok yang cerdas, setia dan bertanggung jawab. Wajahnya juga sedap dipandang.

Suatu hari Barfi jatuh cinta dengan Shruti (Illeana D'Cruz), gadis cantik dan berasal dari keluarga berada. Sikap Barfi yang lucu, konyol dan menyenangkan dengan segera membuat Shruti jatuh hati pula. Tapi apa daya, orang tua Shruti tak memberi restu akibat ketidaknormalan Barfi. Akhirnya Shruti terpaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Lalu pindah ke kota lain. Sampai di sini terasa sisi klisenya film India.

Sepeninggal Shruti, Barfi melanjutkan hidup meski dengan kondisi ayahnya yang sakit selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ayah Barfi pingsan dan masuk rumah sakit. Vonis dokter harus segera dilakukan operasi ginjal dengan biaya 7000 rupee.

Barfi awalnya memohon bantuan majikan ayahnya sekaligus ayah dari Jhilmil (Priyanka Chopra), gadis autis teman masa kecilnya. Tapi karena ditolak, Barfi memiliki niat yang lain; menculik Jhilmil dengan tebusan 7000 rupee.

Dengan mengecoh polisi, rencananya berhasil. Tapi pada saat bersamaan ayahnya tak terselamatkan. Repot mengurus Jhilmil yang tak normal perilakunya, akhirnya Barfi memulangkan gadis itu secara sembunyi-sembunyi.

Meski sudah dipulangkan, Jhilmil terlanjur menyukai Barfi. Ia selalu mengikuti ke mana pun Barfi pergi. Apalagi secara tak sengaja Barfi menyelamatkan dirinya yang menjadi korban penculikan bermotif uang yang dilakukan pihak lain. Demi mengetahui bahwa Jhilmil butuh perlindungan dan menghindari kejaran polisi yang menyangka ia adalah penculik Jhilmil, Barfi pindah ke kota lain bersama gadis autis tersebut.
Sementara itu, bertahun-tahun menikah ternyata membuat Shruti sadar bahwa ia memang tak bisa mempertahankan rumah tangganya. Apalagi Shruti kemudian bertemu Barfi. Cinta mereka kembali bersemi. Membuat keinginannya untuk bercerai  dan hidup bersama Barfi semakin kuat. 

Jhilmil yang melihat Barfi kembali dekat dengan Shruti cemburu. Ia memutuskan menelepon yayasan autis milik kakeknya yang kaya raya dan minta dijemput. Melihat Jhilmil sudah ditemukan, rencana penculikan yang memang didalangi ayah kandung Jhilmil yang terlilit utang, kembali direncanakan yang kedua kali.

Lalu bagaimana cinta Shruti dan Barfi? Bagaimana dengan nasib Jhilmil yang ternyata memiliki 'rasa' pada Barfi? Film ini membuat saya mengira ini dan itu. Sayang, tebakan saya salah semua.

Saya begitu menikmati setiap adegan yang disuguhkan dalam film ini. Bagaimana kebiasaan Barfi 'memanggil' Jhilmil dengan melempar-lempar sepatunya ke udara. Ekspresi dan bahasa tubuh Barfi dan Jhilmil begitu khas dan natural.

Adegan mengharukan bagi saya saat melihat bagaimana sedihnya Barfi yang begitu PD-nya menghadap orang tua Shruti untuk melamar dengan bekal surat selembar. Pada saat yang sama ia mengetahui bahwa Shruti telah dijodohkan dengan pria lain dan bukan memilih dirinya. 

Selain adegan menyentuh, film ini juga membuat kita menahan tawa. Bisu tuli. Surat lamaran  ditolak dikira mau minta sumbangan. Pamit pulang kejedot pintu. Diiringi hujan. Rantai sepeda pakai acara lepas pula. Benar-benar Barfi yang malang!

Lagu-lagu yang menjadi soundtrack film ini juga enak didengar. Tak terlalu medok India-nya. Sedikit jazzy dan berbau latin.

Film yang dirilis September 2012 ini menuturkan makna cinta sebenarnya. Tanpa syarat apapun. Seperti cinta Shruti, Barfi dan Jhilmil yang tak melihat pada normal atau tidaknya seorang manusia. Mengingatkan kita bahwa penyandang disabilitas juga berhak untuk dicintai dan hidup bahagia.

CikPus, 25 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik