Bahaya Typo



Bagi yang suka menulis mungkin istilah typo sudah tak asing lagi. Typo atau salah ketik adalah hal yang lumrah terjadi saat kita membuat karya dalam bentuk tulisan.
foto: google image
Membicarakan masalah typo, ada yang menggelitik hati saya pagi ini. Sambil menunggu cucian dibilas, saya iseng buka beranda FB. Langsung nongol fanpage-nya Mbak Asma Nadia.
Hm, beliau--seperti biasa--sedang mempromosikan paket hemat buku ANPH. Juga promo film Assalamualaikum Beijing, novel romantis yang kabarnya akan segera tayang di bioskop nasional
akhir Desember ini.
Nah, di sana terselip kata yang salah ketik. Tulisan "Ketika Mas Gagah Pergi" ditulis "Ketiak Mas Gagah Pergi". Saya langsung ketawa geli.
Sebenarnya dulu sensei kami di Komunitas Bisa Menulis (KBM) Pak Isa Alamsyah--yang juga suami Mbak Asma--sering juga melakukan itu. Saat ditanyakan, ia berkilah begini, 'Saya mengetik cepat, tidak diedit lagi.'
Yah, saya sangat memaklumi. Beliau mungkin tak punya waktu untuk mengedit postingannya di KBM. Sudah mau berbagi ilmu saja bagi saya sudah syukur alhamdulillah.
Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa gegara salah ketik ini, kalimat yang dibuat jadi terdengar lucu. Bahkan lebih parah bisa membuat orang tersinggung atau marah, meskipun hanya satu hurup saja yang salah.
Contohnya begini,"Anakmu hobi makan tahu ya?"
Gara-gara typo jadi berbunyi,"Anakmu hobi makan tahi ya?"
Meskipun pembaca sudah memaklumi--pada keypad qwerty hurup i bersanding dengan hurup u--tetap saja kalimatnya jadi aneh dan lucu. Kalau mengetik via HP touchscreen resiko typo lebih terbuka lebar.
Contoh lain,"Dia ulet. Kemauannya besar."
Gara-gara typo dan tidak diedit jadi tertulis,"Dia ulet. Kemaluannya besar."
Berabe kan?
Duluuu sekali--kalau tak salah masih SD--saya juga pernah membaca buku yang membahas masalah salah ketik ini. Tapi saya lupa judul buku dan pengarangnya.
Penulis buku tersebut menceritakan tentang lamaran kerja seorang calon pegawai di instansi pemerintah yaitu di kantor Mendikbud (Diknas jaman dulu) yang tak pernah mendapat tanggapan. Entah diterima atau ditolak.
Setelah berbulan-bulan lamanya iseng ia membaca kembali salinan surat lamaran kerja yang telah ia kirim. Seketika ia menepok jidat. 
Di sana tertulis,"Kepada Yth. Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebuayaan." Huruf D tak ia selipkan. Pantas saja ditolak! Bisa jadi kertas lamarannya langsung dikunyah oleh Pak Kepala Dinas, hehehe..
Terlihat sepele bukan?
Mungkin itulah sebabnya di setiap pelatihan menulis yang saya ikuti, pemateri selalu menekankan berkali-kali, sebelum mengirimkan karya, sediakan waktu semenit dua untuk editing tulisan sendiri.
Jadi, mari belajar menghilangkan typo pada tulisan!ˆ ˆ
Cikarang Pusat, 26 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik