Padamu Jengkol!

Setelah tinggal di Jawa saya baru tahu kalau jengkol itu berfungsi sebagai teman makan nasi alias lauk. Di daerah saya, Sambas Kal-Bar, jengkol itu dibuat sebagai jajanan atau camilan. Biasanya direbus lalu ditaburi kelapa campur gula pasir di atasnya. Kalau tidak, jengkol lazimnya dimasak dengan bumbu rendang. Sedap untuk dikudap. Dan sekali lagi saya sebutkan, hanya sebagai camilan, bukan sebagai lauk. Kecuali jengkol muda yang biasa dibuat sebagai lalapan.
Nah, entah apa maksudnya, Allah menakdirkan saya menikah dengan seorang lelaki yang agak
maniak dengan yang namanya jengkol. Saya begitu iri melihat suami sangat lahap makan di rumah ibunya meski hanya berlaukkan semur jengkol dan sayur asem. Pakai acara nambah pula! Selama menikah, adalah hal yang sulit membuat suami makan sampai dua piring. Diam-diam saat itu saya pun berusaha untuk bisa memasak jengkol kesukaan suami dengan meminta resep langsung dari ibu mertua yang kini sudah almarhumah.

Tapi, meski sudah beberapa kali mencoba resep yang sama, hasil masakan jengkol saya tetap saja tak mampu menyamai kelezatan jengkol olahan tangan ibu mertua. Ada saja kesalahan yang saya buat. Jengkolnya terlalu keras, terlalu muda/tua, kadang kurang bumbu, kadang terlalu matang. Saya tak pernah mengira kalau mengolah jengkol ternyata tak semudah yang saya pikirkan.

Sekarang bisa dibilang saya tak pernah lagi mencoba memasak buah yang satu ini. Selain takut gagal lagi, saya juga tak nyaman dengan tetangga. Kenapa? Sebab, saya bingung membuang air rendaman jengkol sebelum dimasak yang baunya naudzubillah itu! Jika saya buang di bak cuci piring, otomatis airnya akan mengalir ke selokan depan rumah. Lalu 'air keramat' itu akan mengalir melewati beberapa rumah tetangga sebelum akhirnya menuju saluran pembuangan limbah yang lebih besar di luar gang.

Jadi kalau ingin memanjakan suami dengan jengkol favoritnya, saya tinggal mengajaknya ke rumah makan terdekat yang menyediakan menu semur jengkol. Memang sih jadinya lebih mahal dibanding masak sendiri. Tapi itu lebih baik daripada mengolah tanpa garansi hasilnya pasti enak dan empuk. Dan yang pasti saya tak perlu 'menyiksa' tetangga dengan bau air rendamannya!

Hegar Asri, 12 Oktober 2014






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik