Mengubah Kutukan Menjadi Pujian



Sudah jadi kebiasaan masyarakat Indonesia, tak di kampung apalagi di kota, jika mati lampu melanda, otomatis serangkaian kalimat kutukan dan sumpah serapah langsung tertuju buat penyuplai listrik nasional dan terbesar satu-satunya, yaitu PLN.



Jika pemadaman didahului dengan pemberitahuan sebelumnya, mungkin masyarakat masih bisa menerima. Tapi celakanya, kadang informasi pemadaman tak langsung sampai ke warga akar rumput. Lebih sering tanpa woro-woro. Blep! Selesai sudah.


Bagi saya ibu rumah tangga yang seharian bergelut dengan aktivitas harian di rumah, pemadaman listrik tentu saja dirasa sangat mengganggu. Apalagi jika dilakukan saat baru memulai hari. Hampir semua kegiatan saya didukung oleh alat elektronik yang memerlukan energi listrik. Bisa dibayangkan betapa repotnya jika pemadaman dilakukan tanpa pemberitahuan.


Kalaupun ingin melakukan pemadaman, mungkin pihak PLN bisa melakukan survey kepada pelanggannya, jam-jam berapa saja pemakaian listrik tak terlalu dibutuhkan. Kalau saya ibu rumah tangga, selama urusan dapur dan sumur beres, saya merasa tenang meski lampu mati seharian. Asal jangan di waktu pagi dan jelang malam. Lalu di atas jam 10 malam juga bagi saya tak mengapa jika listrik tak menyala.

Umumnya listrik paling utama adalah untuk penerangan. Jika tak ada listrik, terutama malam hari, bisa dipastikan kehidupan bagai mati suri. Bukan masalah pemadaman yang membuat masyarakat kesal, ketidaksiapanlah yang membuat mereka naik pitam. Ketidaksiapan akibat tidak adanya pemberitahuan pemadaman dari pihak PLN tadi.

Untuk itu, sebaiknya informasi pemadaman ini benar-benar diperhatikan oleh pihak PLN. Paling tidak dengan adanya informasi, masyarakat bisa siap sedia menyesuaikan diri dengan menyiapkan fasilitas alternatif saat mati lampu terjadi. Mungkin dengan mengisi cadangan air bersih sebanyak-banyak bagi yang menggunakan sumur pompa listrik agar urusan dapur dan sumur tak terkendala. Meng-charge semua lampu emergency, telepon seluler, power bank, dan semua peralatan elektronik seperti laptop yang sangat penting bagi saya yang sering menulis di blog.

Agar masyarakat sadar untuk hemat listrik, sebaiknya PLN lebih menggalakkan lagi iklan-iklan layanan masyarakat tentang tips-tips menghemat pemakaian listrik baik di media cetak atau elektronik. Agar menjangkau semua lapisan, tips hemat listrik bisa disebar lewat struk pembayaran PLN atau fasilitas SMS dengan bekerja sama dengan provider penyedia layanan seluler. Mungkin terkesan sepele, tapi jika dibaca terus menerus, itu bisa menjadi sugesti positif bagi pelanggan PLN.

Saya sendiri telah merasakan dampaknya bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dalam rangka mengurangi beban pemakaian listrik memang besar pengaruhnya terutama mengurangi biaya tagihan. Seperti kebiasaan mematikan lampu yang tak perlu, mencabut peralatan elektronik dari sumber listrik, tidak menyalakan warmer nasi dan dispenser air panas 24 jam, tidak menyalakan mesin pompa air, seterikaan dan mesin cuci secara on/off berkali-kali dalam satu hari.

Ada beberapa ide yang bisa dilakukan PLN agar mampu meningkatkan pelayanan pada masyarakat selain memasyarakatkan gerakan hemat listrik secara massive di atas. Mungkin ide saya masih sebatas ide liar tanpa perhitungan seksama. Tapi tak ada salahnya membagi ide yang terpendam di kepala, bukan?

A.    Inovasi
PLN berinovasi memproduksi lampu emergency yang tahan lebih dari 2x24 jam. Entah bagaimana caranya, yang penting lampu ini bisa sebagai pengganti jika kebetulan terjadi pemadaman. Jadi, masyarakat tak perlu lagi dipusingkan dengan masalah penerangan. Sebab lampu emergency di pasaran biasanya hanya bertahan 2-4 jam. Meski ada produk tertentu yang mengklaim bisa bertahan sampai 14 jam, tetap saja lampu emergency tak bisa diandalkan.
Inovasi lain adalah membuat generator penyimpan energi matahari sebagai energi listrik cadangan untuk disiagakan di tengah masyarakat saat terjadi pemadaman listrik. Selama ini generator pembangkit listrik yang biasa digunakan masyarakat tak ramah lingkungan karena menimbulkan polusi suara. Selain harga yang kurang bersahabat dengan kantong  rakyat kecil pada umumnya.

B.     Pelatihan perakitan panel surya
Indonesia yang dianugerahi panas matahari sepanjang tahun, harusnya bisa memanfaatkan energi alam terbesar ini untuk menyuplai cadangan listrik. Jika selama ini mungkin PLN melakukan dalam skala besar ketika memanfaatkan tenaga surya untuk menghasilkan pasokan listrik nasional, kenapa tidak menerapkan teknologi ini di masyarakat itu sendiri. Jadi tiap-tiap rumah tangga bisa memiliki  cadangan listrik sendiri tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada pasokan listrik dari PLN.

C.     Reward hemat listrik
Saya mendengar ide ini sebelumnya ada di program pelayanan PLN. Tapi saya belum melihat dampak nyatanya di masyarakat. Mungkin karena saya pengguna daya 900 kwh jadi tak tersentuh program ini.
Beberapa kantor cabang PLN memberikan reward atau hadiah biasanya pada pelanggan yang rajin membayar tagihan listrik alias yang tidak menunggak pembayaran.
Nah, kali ini buatlah program reward menarik untuk pelanggan PLN yang berturut-turut mampu menekan biaya tagihan listriknya di bawah standar biaya yang normal dikeluarkan sesuai daya yang dipakai. Rewardnya bisa berupa diskon tagihan, hadiah pulsa listrik ataupun hadiah langsung yang bisa diklaim di kantor cabang PLN terdekat. Atau jika mampu memperkecil penggunaan listrik secara kontinyu, PLN bisa menghadiahi pelanggan dengan membebaskan mereka dari kewajiban membayar tagihan listriknya, misalnya untuk satu bulan ke depan. Menarik bukan?

Itu beberapa ide yang mampu saya sumbangkan demi peningkatan pelayanan PLN di masa yang akan datang. Saya yakin, dengan menyelenggarakan blog competition ini saja, PLN telah ber’tikad baik dan sedang berusaha mencari solusi untuk memperbaiki dan membenahi pelayanannya bagi rakyat Indonesia.

Semoga, setelah ini tak ada lagi sumpah serapah atau kalimat kutukan tiap kali PLN melakukan pemadaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik