Lupa yang Berguna

Saya sering mengalami ini. Mungkin bagi yang suka nulis juga pernah merasakannya. Biasanya terjadi ketika saya mengetik naskah, entah puisi, cerpen atau bahkan hanya komentar di kolom postingan status di FB atau dulu saat aktif di blog keroyokan di Kompas.com. Isinya langsung disarikan dari buah pikiran saat itu juga. Tanpa draft atau konsep. Ketik, kelar, tinggalkan.

Nah, suatu hari saat kembali lagi membuka-buka status lama berikut komen-komennya, saya merasa
aneh. Saya tak ingat bahwa komentar tersebut saya yang nulis. Saya tak lagi mengenali tulisan sendiri. Begitu juga di blog atau di folder naskah simpanan di lepi, hal itu sering terjadi. Saya merasa semua tulisan itu bukanlah ketikan saya. Kalau bukan saya, lalu ketikan siapa?

Pertanyaan saya terjawab ketika mengikuti pelatihan menulis rutin di markas FLP Bekasi. Pemateri yang mengajar kami saat itu adalah Mas Asa Mulchias, seorang penulis novel, cerpen juga buku non fiksi lain sekaligus copy writer. Beliau mengatakan bahwa jika kita sudah tak ingat atau tak mengenali lagi tulisan kita sebelumnya, itu artinya kita sudah berhasil melepaskan ikatan emosi pada karya tersebut. Tandanya kita sudah di tahap penilaian objektif pada karya sendiri.

Beliau juga mengatakan, proses lupa terhadap karya sendiri ini sangat membantu terutama dalam proses editing. Kita tak menomorsatukan rasa 'sayang' dalam mengobrak-abrik naskah yang sejatinya sudah susah payah kita selesaikan. Kita membaca karya bukan sebagai penulis, tapi sebagai pembaca atau penikmat karya yang ditulis orang lain. Meski hakikatnya orang lain itu adalah kita sendiri.

Mungkin itulah sebabnya penulis kondang semacam Mbak Asma Nadia ketika memberikan workshop kepenulisan, selalu menyarankan untuk memberi jeda sejenak setelah tulisan kita rampung. Ketik naskah hingga selesai dan simpan. Diamkan untuk beberapa lama. Jangan coba diutak-atik atau dibaca ulang.

Setelah beberapa hari, baru kita buka lagi dan masuk ke proses editing. Nah, di sinilah 'keajaiban' itu terjadi. Sedikit banyak kita mungkin tak lagi mengingat apa yang pernah kita tuangkan dalam tulisan.
Dan bisa jadi membuat kita terkaget-kaget,  mungkin juga akan menyangkal bahwa kitalah penulisnya. Dengan begitu kita bebas mengedit naskah dengan obyektif. 

Selamat mencoba!

17 Oktober 2014





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik