Derita Full Time Mom

"Bu, besok Sabtu ada study visit ke Bandung, Ibu bisa ikut tidak, mewakili wali murid kelas 4A?"

Selasa siang, setelah bertanya tentang jadwal les komputer yang tak jelas informasinya pada wali kelas Nayla, Pak Andre, tiba-tiba ia melanjutkan dengan SMS yang berbunyi seperti di atas. Hm, study visit? Apaan tuh? Samakah dengan study tour, studi banding or studi kasus? Terus, kok jauh
amat ke Bandung? Halah...! Tapi apa pun itu, kedengarannya menarik di telinga saya.


"Sama siapa aja, Pak?" sambil berpikir saya membalas cepat pesannya.

"Kalau dari kelas 4 A dengan Mamanya Nabila."

Si Ompong yang ngangenin
"Terus, anak-anak boleh ikut?"

"Enggak, Bu! Wali muridnya aja. Tiap kelas diwakili dua orang, kecuali kelas 1,"  Ia membalas dengan jawaban yang ambigu.  Duh, ntar Nayla  dengan siapa dong?

"Terus Nayla gimana, Pak? Kalau gak ikut gak ada yang jaga, secara ayahnya giliran masuk pagi minggu ini!"

"Kata rekan guru sih, bisa dititipin tetangga!" Aih, emangnya kunci bisa dititip seharian, hehehe...

"Kalau sampai malam pulangnya gimana, Pak?"

"Paling sore udah pulang, Bu!" ia mencoba meyakinkan saya, "atau mungkin bisa dibicarakan dulu sama suami!' Sepertinya Pak Andre mengerti kegelisahan saya.

"Kalau boleh tahu, Bandungnya daerah mana?"

"SDN 02 Rajamandala, Bu. Bandung Barat! Nanti pulangnya Insya Allah ke Ciater." 

Saya mengerutkan kening, rasanya belum pernah dengar nama daerah itu. Dan penyebutan kata Ciater itu seolah senjata sebagai bujukan halus dari Pak Andre agar saya berminat untuk ikut. Well, sebenarnya tanpa diembel-embeli mampir ke Ciater pun saya antusias. Cuma masalahnya, saya memikirkan 'nasib' Nayla jika ditinggal. Weleh...

Bingung juga. Biasanya saya meninggalkan Nayla untuk mengikuti kegiatan di luar dengan syarat harus ada ayahnya di rumah. Sehingga saya tak perlu menitipkannya pada tetangga full seharian. Entah kenapa, setiap kali membayangkan bakal meninggalkan anak tanpa ada ayahnya membuat saya merasa bersalah. 

Dilema. Satu sisi saya juga ingin menjelajahi bumi Allah yang lain, sekaligus menambah wawasan saya tentang daerah dan tempat yang belum pernah dijejaki. Tapi di sisi lain, dengan meninggalkan anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa, atau menitipkan lama-lama pada tetangga, itu juga bukan perkara yang saya suka. Daripada pusing akhirnya saya menelepon suami.

"Yah, Bunda diajakin study visit nih ke Bandung sama Pak Andre dan guru-guru lain, mewakili kelas 4 A bareng mamanya Nabila. Bunda boleh ikut gak? Tapi Bunda bingung kalau ikut, ntar Nay ama siapa? Soalnya gak boleh bawa anak!"

"Ikut aja, kan Sabtu  ayah bisa pulang setengah hari," ucapan suami bagai oase di padang pasir. Memberi ijin sekaligus solusi.

"Emang yakin ayah bisa pulang setengah hari? Katanya kemarin istri leader yang satunya sakit? Takutnya ayah gak bisa pulang cepat! Gak ada yang gantiin!"

"Bisa. Ikut aja. Memang Bandungnya ke mana?"

"Katanya sih SDN Rajamandala, Bandung Barat. Apa Nayla dititip ke Makcik aja ya? Kemarin katanya mau nginap di Graha Asri?" Makcik itu adalah sebutan Nayla untuk kakak saya yang tinggal sekitar 25 menitan jarak tempuh ke rumahnya jika menggunakan sepeda motor.

"Ya udah, tanyain aja ama anaknya maunya gimana!"

"Oke deh, kalau gitu. Makasih ya, Han?" Mm, suami saya ini memang paling tahu maunya istri.

Secepatnya saya mengirim pesan singkat pada wali kelas Nay itu untuk mengabarkan kesediaan saya menjadi wali murid yang mewakili kelas 4 A nanti. 

Hari Jumat tiba. Nayla memberitahu bahwa Sabtu besok sekolahnya diliburkan. Hm, kalau begini ceritanya saya jadi tenang. Saya putuskan untuk menelepon Kakak, memastikan ia ada di rumah agar Nayla bisa ke sana berangkat pagi hari bersama ayahnya, sementara saya bersiap-siap ke Bandung.

Dan kepergian saya ke Bandung kemarin sekaligus memecahkan rekor, karena untuk pertama kalinya Nayla  tidur menginap jauh tanpa ayah bunda di dekatnya.

Itu adalah satu 'derita' saya sebagai full time mom, tak bisa jauh dan lama-lama meninggalkan putri kami yang sejak masih bayi, belum pernah sekali pun terpisah dengan ibunya lebih dari 12 jam. Meski adanya kadang membuat mulut saya tak berhenti ngomel, tapi ketiadaannya di sisi sering menimbulkan ketidaktentraman di hati.

Bagaimana dengan ibu-ibu lainnya ya? Samakah 'deritanya' dengan saya? Tak lolos kualifikasi  jilbab traveler kalau begini! Hehehe...

Hegar Asri, 19 Oktober 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik