Bosscha, Jomblo Belanda yang Cinta Indonesia



Dulu saat kecil saya senang sekali bermain di kebun Bapak. Letaknya lumayan jauh dari rumah. Biasanya kami ke sana jika sudah lelah bermain di sawah. Di kebun itu, saya bisa melihat berbagai macam tanaman cabe, kacang tanah, sawi-sawian dan lain sebagainya.

Di sebelah kebun Bapak, terdapat areal pekuburan Belanda. Kami menyebutnya karkof (maaf, saya
kurang tahu arti dan cara penulisan yang benar bagaimana). Entah makam siapa saja yang terbaring di sana. Mungkin sebagian besar adalah penjajah Belanda yang menduduki Indonesia selama 3,5 abad lamanya.

Nah, bulan Agustus kemarin salah satu agenda writing camp ke Pangalengan yang diadakan oleh Komunitas Bisa Menulis adalah mengunjungi makam seorang Belanda. Bedanya, sekarang yang saya akan temui adalah seorang Belanda yang namanya terkenal, dan banyak berjasa pada bangsa Indonesia. Dia adalah Karel Alfred Rudolf Bosscha. 
Bosscha adalah dermawan Belanda yang menetap di Indonesia, di mana sejak Agustus 1896 menjadi juragan perkebunan teh Malabar, Bandung.  Beliau begitu peduli pada kesejahteraan masyarakat pribumi Hindia Belanda saat itu. Ia juga seorang pemerhati ilmu pendidikan terutama ilmu astronomi. Jujur sebelum ini, saya mendengar namanya karena teropong bintang terkenal yang ada di Lembang itu, Observatorium Bosscha.

Bosscha yang lahir di Den Haag, 15 Mei 1865, merupakan tokoh di balik berdirinya Institut Teknologi Bandung(ITB), bahkan Vervoloog Malabar, sekolah gratis yang ia dirikan pada tahun 1901 untuk anak-anak para karyawan dan buruh di perkebunan teh miliknya hingga kini masih berdiri, yaitu berganti nama menjadi SDN Malabar II.
Bosscha meninggal pada tahun 1928 akibat penyakit tetanus. Saking cintanya pada Indonesia, ia mewasiatkan agar jenazahnya dimakamkan di sebuah hutan kecil di areal perkebunan miliknya. Hingga akhir hayat tak tercatat bahwa ia memiliki seorang istri secara resmi. Meski begitu, konon Bosscha memiliki delapan selir wanita pribumi. Dan cucunya kabarnya masih setia mengunjungi makamnya secara berkala.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, beberapa tempat seperti pusat pengamatan bintang yaitu Observatorium Bosscha dan kompleks laboratorium Fisika di ITB diabadikan dengan menyandingkan namanya. Dan sebuah planet kecil (planetoid) yang ditemukan tahun 2007 juga dinamai Karelbosscha untuk mengenang jasa-jasanya dalam bidang astronomi.

Cikarang Pusat, 03 Oktober 2014






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik