Bohong itu Melelahkan!

Setiap 10 menit percakapan, rata-rata manusia melakukan 3x kebohongan. Itu kalimat rekan Dr. Cal Lightman yang sangat saya ingat ketika sedang gandrung-gandrungnya dengan serial drama kriminal 'Lie to Me' yang dibintangi aktor Tim Roth. 

Hm, banyak juga ya? Coba dalam sehari  berapa menit yang kita habiskan untuk ngobrol dengan pasangan, saudara, teman bahkan rekan kerja dan pimpinan? Jika penyataan--yang bisa saja fiktif-- itu benar, ada berapa kebohongan yang terkalkulasi dalam satu hari?
Tahukah Anda, ketika memutuskan untuk berbohong secara tidak langsung kita telah membebani beban kerja otak. Jika berkata jujur, hanya ada 4 bagian otak yang bekerja, sebaliknya saat kita
berbohong justru ada 9 bagian otak yang terlibat.

Belum lagi efek negatifnya untuk fisik maupun psikis. Dengan memulai satu kebohongan, kita dituntut untuk mempersiapkan kebohongan yang lain. Otak diperas mencari solusi dan alasan yang masuk akal. Bola mata berputar-putar berusaha menemukan pembenaran yang meyakinkan. Jantung dipompa lebih cepat karena berusaha mengurangi ketegangan, takut kebohongan terungkap. Keringat dingin, tangan bergetar. Belum lagi rasa bersalah, takut dosa, depresi, stress dan efek psikis negatif lainnya.

Ya, berbohong itu menguras energi. Melahirkan perasaan tak nyaman juga rasa tertekan. Tapi biar begitu, masih banyak dari kita yang sering melakukannya. Mungkin termasuk anda bahkan mungkin juga saya. Meski sebagian besar kebohongan yang saya lakukan saya anggap sebagai white lie, bohong karena keterpaksaan, misalnya takut orang lain tersinggung, menghindari konflik, atau mencegah pertikaian di antara orang-orang di sekeliling saya, tetap saja membuat hati ini gundah.

Berbohong memang benar-benar melelahkan, ya?

Milanur Almair,02 Oktober 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik