Berkunjung Sambil Mencuri

Hari Sabtu tiba. Pukul 04.00 WIB saya sudah bangun mendahului suami. Saya harus masak nasi pagi sekali untuk dibawa sebagai bekal perjalanan nanti. Sebenarnya karena study visit ini bukan perjalanan wisata bareng keluarga saya merasa malas membawa bekal segala. Tapi karena wali kelas putri saya menyarankan demikian, apa boleh buat. Saya pun memasak untuk bekal makan siang di Bandung. Kumpul di titik poin keberangkatan pukul 05.30 pagi membuat saya seperti dikejar waktu. Merasa seperti wali murid paling rempong sedunia!

Class tour nyasar di kelas IV B

Dengan diantar suami saya menuju bis yang telah disediakan. Saya celingak-celinguk mencari wajah
yang dikenal. Sayang hingga bis berangkat tak satu pun wali murid lain yang saya hapal. Hanya guru-guru saja, yang jadi teman saya berbincang.


Tak ada yang menarik sepanjang perjalanan. Membuat saya bosan. Perbincangan dengan salah satu guru kelas SDN 02 Hegarmukti yang duduk di depan saya, tak menemukan informasi maksimal yang saya cari. Saya hanya ingin tahu, apa tujuan perjalanan ini? Kenapa baru ada saat putri saya sudah duduk di kelas empat? Siapa yang membiayai karena saya tak dipungut biaya sesen pun? Kenapa harus jauh-jauh ke Bandung? Adakah hubungannya dengan Kurikulum tahun 2013 (Kurtilas) yang masih membuat saya bingung?
Ibu Kepsek Hj. Siti Hindun

Saya menutup gorden bis karena sinar matahari mulai meninggi, menyilaukan pandangan dan membuat pusing karena mata ini terus memicing. Dan memilih kegiatan alternatif yang lebih mengiurkan sebab saya masuk kamar di atas pukul 12 tadi malam, yaitu tidur!

Pukul 08.15 saya terbangun, bis sudah memasuki daerah Bandung, tepatnya di jalan raya Padalarang. Sebelumnya saya merasa geli saat diingatkan oleh seorang teman yang berdomisili di Bandung via BBM yang mengatakan Bandung sedang macet parah. Festival Bandung Caang 2014 digelar. Hm, macet apanya? Yang saya tuju ini adalah wilayah Bandung Barat, paling barat yang justru lebih dekat dengan Cianjur! Pantas saja kelokan dan jurang tajamnya mengingatkan saya pada perjalanan ke Kota Beras tersebut.

Pukul 09.00 kami sudah menuju sekolah yang dituju. Barisan guru menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah. Begitu juga dengan pertunjukan marching band dari anak-anak SDN 02 Rajamandala Kulon yang sangat menyihir para wali murid dan semua guru kelas yang ikut. Beberapa di antara kami ada yang mengabadikan momen ini dengan ponsel di tangan.

Kami diarahkan untuk memasuki ruangan yang khusus memamerkan hasil karya murid-muridnya. Berbagai macam kerajinan tangan, kaligrafi, hasil daur ulang sampah dipajang di sana. Ada juga deretan angklung di bagian sudut ruangan, dan terdapat piano di sudut lainnya.

Tepat pukul 09.30 WIB acara dimulai dengan berbagai sambutan mulai dari Kepala Sekolah, Ketua Komite Sekolah, Perwakilan USAID untuk wilayah Karawang dan Bekasi sebagai fasilitator yang ikut serta bersama kami, yang baru saya tahu setelah mendengar penjelasan dari Kepsek SDN 02 Rajamandala Kulon ini, Ibu Hj. Siti Hindun. Lalu ada sesi tanya jawab, dan class tour.

Ternyata, sekolah negeri ini baru setahun menjadi sekolah binaan USAID (United States Agency for International Depelovement) yang bekerja sama dengan Pemkab Bandung Barat. Sama halnya dengan SDN 02 Hegarmukti yang baru saja menjadi binaan USAID melalui programnya yang khusus untuk meningkatkan mutu pendidikan anak yaitu USAID Prioritas karena ditunjuk oleh oleh Diknas di bawah naungan Pemda Bekasi yang bermitra dengan .

Study visit ini tujuannya adalah untuk mencontek atau mengambil ilmu dari sekolah yang sudah berhasil melepaskan paradigma SD Negeri selama ini. Bahwa SD Negeri juga bisa dan mampu berprestasi dan berkegiatan luas layaknya SD swasta.  Ini terbukti dengan berhasilnya SDN 02 Rajamanadala Kulon mengakomodir pengadaan alat dan fasilitas penunjang kegiatan ekstra kurikuler yang lebih beragam untuk anak didik mereka. Mulai dari pengadaan angklung, piano, marching band, dll. Selain itu SD ini juga berhasil membangun sendiri ruang kelas dan ruang-ruang tambahan yang dikelola dari dana yang berasal dari wali murid yang membentuk sebuah kumpulan yang disebut paguyuban kelas.

Sepertinya memang tak rugi kami para wali murid dan guru mengunjungi sekolah ini. Kekuatan tekad mereka patut dipuji. Dan hasilnya memang sangat membanggakan. Terbukti dengan adanya kunjungan dari guru SD dari Australia selama seminggu. Itu sudah cukup memberi alasan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan sekolah ini memang patut ditiru.

Hegar Asri, 19 Oktober 2014






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik