Spesial Buat yang Jomblo



Minggu lalu, tepatnya minggu ke-3 bulan September, merupakan Pekan Jomblo Nasional di Amerika. Sedang untuk hari jomblonya sendiri, yaitu Single Awareness Day jatuh pada 15 Februari, sebagai aksi ‘balas dendam’ buat mereka yang sayang-sayangan di hari Valentine. 


Di Tiongkok, Hari Jomblo Nasional (HarJomNas) juga dirayakan setiap 11 November atau 11/11. Kenapa mereka memilih tanggal cantik itu? Mungkin terinspirasi dari lagunya Caca Handika, “Hidup
terasa kaku, bagaikan angka satu...” Haddeuh...

Dan di Korea Selatan, HarJomNas mereka peringati setiap  tanggal 14 April. Mereka menyebutkan Black Day. Pada hari itu para jomblo memakai pakaian hitam dan menyantap mie warna hitam khas korea yang disebut jajangmyeon. Pakai hitam-hitam, kesannya kok seperti berbelasungkawa ya?

Aneh juga! Kenapa jomblo harus diperingati dan dirayakan? Mungkin sekedar penghormatan kali ya, atas ketaatan dan kesetiaan mempertahankan status kejombloan mereka. Dari tahun ke tahun, hehehe.. .

Persamaan dari ketiga perayaan tak lazim di atas adalah sama-sama ingin membuka mata dunia, bahwa menjadi jomblo bukanlah mala petaka. Mereka layak bahagia sebagaimana yang berpasangan. Pada hari itu mereka bersenang-senang sesama jomblo. Berpesta, makan-makan, belanja sale dan diskon besar-besaran di mall yang khusus ditujukan untuk para jombloers. Lucunya, kadang mereka menemukan jodoh justru di hari itu.

Sebenarnya jadi jomblo itu lebih enak daripada punya pasangan (baca: pacaran). Dengan menjomblo, kita bebas berteman dengan siapa saja. Percaya atau tidak, ketika memutuskan untuk jalan alias jadian dengan seseorang, pada saat yang bersamaan itu artinya kita kehilangan 2-3 jalinan persahabatan sekaligus. Wah, parah ya? Padahal menurut saya, memiliki sahabat itu lebih sulit ketimbang mencari pacar. Khususnya sahabat yang benar-benar sejati dan sehati.


Keuntungan menjadi jomblo yang lain adalah mereka tak mudah stress diakibatkan permasalahan yang mungkin timbul bila memiliki pasangan. Dengan predikat jomblo, mereka juga jadi terdorong untuk lebih memerhatikan penampilan sekaligus pola makan, agar senantiasa sehat dan menarik di depan gebetan.


Jadi rasanya tak perlu peringatan khusus untuk merayakan kejombloan. Nikmati saja. Tak perlu menghabiskan waktu dengan meratapi nasib. Seperti kata Mario Teguh, bahwa single mulia itu lebih baik daripada lemes, galau, hidup tak fokus karena sibuk mengejar titel tak jomblo sebagai status.

Cikarang Pusat, 26 September 2014









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik