Korek Kuping Saja 200 Ribu!

Untuk urusan korek kuping, sejak bayi putri saya Nayla sudah berbeda dari bayi pada umumnya. Spesial. Sebenarnya saya tak terlalu ngeh jika saja pada usia 7 bulan ia tak begitu intens memasukkan jarinya ke kuping. Rasanya lucu melihat bayi seumur itu sudah pandai menggaruk dan mengorek telinganya. 
Saat dicek ternyata telinga bagian dalam penuh dengan kotoran. Saya heran, sebab kotoran ini begitu cepat berproduksi. Dan massanya juga berbeda dari biasanya. Jika serumen biasanya lengket dan
berwarna karamel, sedang pada Nayla mirip tepung yang terpercik air, lembut dan lembab. Ada juga bagian seperti kulit ari yang mengelupas, tapi tak berbau. Dan di bagian dalam terdalam tumpukan kotoran yang sudah mengeras.

Berhubung ini menyangkut indera pendengaran yang sangat vital, saya takut untuk mengorek sendiri. Akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke dokter THT. Setelah diperiksa oleh dokter kami diberi obat, katanya sih obat untuk mengurangi radang di sebelah kiri, serta obat pengencer kotoran. Kami diminta datang seminggu kemudian. 

Seminggu berlalu, baru dokter itu berani melakukan tindakan. Radang di sebelah kiri sudah kempes, dan kotoran kuping sudah lembek. Dengan peralatan medis yang kecil-kecil di tangan berikut senter yang nangkring di jidatnya, Pak Dokter ini pun menyedot bersih semua kotoran yang ada di telinga kiri dan kanan Nayla. Membuat saya ekstra keras mendekapnya agar ia tak berontak. 

Setelah bersih, dokter menyarankan untuk melakukan pembersihan ulang setiap 6 bulan. Sejak itu, Nayla rutin mengunjungi dokter THT hanya untuk korek kuping. Dokter juga menyarankan untuk memakai korek kuping khusus, karena untuk kasus Nayla, membersihkan dengan cotton bud biasa justru malah membuat kotoran itu terdorong makin ke dalam. Akibatnya akan lebih banyak tumpukan earwax (kotoran telinga) yang lama-lama makin menebal dan bisa menutupi gendang telinga sehingga mengurangi daya pendengaran. 

Dulu tahun 2006, sekali kunjungan ke dokter tagihannya hampir 200-ribuan termasuk obat. Karena ada pihak asuransi yang menanggung semuanya, jadi bagi kami itu tak menjadi beban. Setelah agak besar, kunjungan rutin ini sempat terhenti sebab Nayla mulai agak trauma dengan alat-alat yang dimasukkan ke liang telinganya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli obat pengencer kotoran kuping di apotik, dan membersihkan sendiri bagian telinga yang sekiranya masih bisa terlihat dan tak terlalu dalam. Kadang kotoran yang  melumer itu keluar dengan sendirinya tanpa perlu diutak-atik. 

Pada dasarnya tanpa dibersihkan pun, secara alami kotoran kuping akan keluar sendiri, misalnya saat proses mengunyah dan batuk atau bersin akan mendorong kotoran itu ke luar. Tak perlu sering-sering mengoreknya dengan cotton bud. Tapi khusus Nayla ini tak berlaku. Dan itulah sebabnya saya menyebutnya spesial.  Karena untuk mengorek kupingnya saja harus keluar ratusan ribu!

Cikarang Pusat, 18 September 2014

foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik