I'm A Seller, and I'm Proud!

Saya tak tahu ini diturunkan atau tidak, tapi yang jelas saya sudah terjun di dunia jual-menjual ini sejak SD. Kelas berapa tepatnya saya lupa. Karir direct selling saya ini (halaaah...:p) dimulai dengan menjual kacang kedelai goreng buatan Ibu. Laris manis. Sebungkus 50 rupiah kalau tak salah (aih, pake lupa, ketauan deh tuanya! :p).
Pembelinya teman saya sendiri. Cukup yang sekelas saja. Sistem pembayarannya pun gampang, bisa
cash atau bayar belakangan. Tapi kebanyakan sih ngutang. Dan saya dengan telaten mencatat nama mereka--para kreditur kacang goreng ini--di halaman belakang buku catatan.

Paling asyik jika banyak yang beli secara kontan. Itu artinya upah saya jualan bisa diambil hari itu juga. Sekedar info, meski yang menjual anaknya sendiri, ibu saya sangat profesional lho! Setiap lima bungkus yang terjual, saya dapat fee seharga sebungkus kacang.

Paling menyebalkan jika harus berhadapan dengan si penunggak hutang. Ada satu dua yang suka begini. Biasanya sih anak laki-laki. Kalau ditagih, hanya memberi seribu janji semanis madu. Cuiihhh...

Hobi jualan ini lanjut sampai SMP dan SMU. Tapi bukan menjual makanan lagi. Komoditas jualan saya sesuaikan dengan minat ABG saat itu. Saya membantu Kakak menjual kartu nama. Pernah juga jualan frame foto buatannya. Lalu jualan cincin, gelang dan kalung stainless yang bisa dipesan dengan nama atau inisial. Memanfaatkan situasi masa remaja di mana teman saya banyak yang mulai pacaran. Terkontaminasi virus merah jambu. Jadi segala sesuatunya selalu ingin diabadikan. Di mana ada namaku pasti ada namamu jua. Bersama selamanya takkan terpisahkan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Yesss, merdeka! Putus lo, syukurin! (efek sirik gak punya pacar, hehehe...)

Dan sekarang, setelah menikah pun saya kembali berhadapan dengan aktivitas ini, jualan. Bermacam jenis barang sudah pernah saya jual. Mulai dari sandal, sepatu, baju anak, daster ibu-ibu, busana muslim wanita, baju koko, sprei, perabot rumah tangga, bed cover, tas, kosmetika, gorden nyamuk, boneka, obat herbal, snack bal-balan, jasa pembayaran listrik, pulsa sampai barang elektronik, gadget dan masih banyak lagi. Dari yang beli grosiran sampai yang eksklusif menggunakan katalog. Apa saja yang bisa dijual, selama halal dan menguntungkan, akan saya lakukan.

Saya bangga dengan profesi yang juga dilakoni oleh ayah dan ibu saya ini. Dengan berjualan saya jadi banyak teman dari berbagai lapisan. Dengan berdagang saya jadi mengenal karakter pembeli. Mana yang serius, mana yang cuma basa-basi. Mana yang suka bayar cash, mana yang hobinya ngutang. Sudah 10x bayar, susah bayar pula, hiks...!

Jadi teringat dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang intinya bahwa 9 dari 10 pintu rejeki itu lebar terbuka buat mereka yang mau berniaga.

Tunggu apalagi? Jualan yuk? ^_^

Cikarang Pusat, 22 September 2014 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik