Feel Blend for This Blind Man

Campur aduk. Ya, begitu rasanya saat pertama kali bertatap muka dengan lelaki ini 24 Oktober tahun lalu. Takjub, kagum, speechless, heran, aneh dan berbagai jenis perasaan lainnya menyeruak tanpa bisa dicegah. 
@Rumah Bosscha, Malabar, Bandung
Tahu namanya tahun 2008. Saat itu saya membaca resensi buku di sebuah majalah remaja. Dari situ
saya mulai terkagum-kagum dengannya sambil membayangkan bagaimana ya sosok keren yang komposisi musiknya sampai dijadikan musik latar perusahaan game Nintendo Jepang ini. Terbersit keinginan untuk membeli bukunya. Tapi saat itu saya tak semaniak sekarang terhadap sebuah buku. Membaca hanya sekedar perintang waktu.

Hingga akhirnya saya menemukan namanya terpampang sebagai salah satu anggota komunitas menulis yang mana saya juga terdaftar sebagai anggotanya. Saya sempat meragu, ini lelaki penulis Blind Power yang itu bukan?

Tanpa pikir panjang, saya meng-add dia sebagai teman. Dan dikonfirmasi. Wah, ternyata dia tidak sombong ya? Buktinya akun yang ia pakai adalah akun biasa, bukan fanpage. Padahal ia penulis ternama. Meski saya belum yakin apakah lelaki ini seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Takut namanya saja yang sama. Maklum namanya juga di dunia maya. Catut mencatut nama itu hal yang biasa.

Iseng saya bertanya lewat jalur pribadi dengannya. Suprise! Responnya sangat cepat. Jadilah untuk beberapa hari kami ber-inbox ria. Ternyata saat itu ia sedang promo novel terbarunya yang akan segera di-launching di sebuah tokbuk di Jakarta.

Nah, dari inbox tersebut ia meyakinkan saya untuk membeli novelnya, Mata Kedua. Kebetulan sedang diskon jika membeli dari penulisnya langsung. Akhirnya saya mengiyakan karena penasaran. Sejak itu pertemanan pun berjalan hingga kopdar Oktober 2013 itu mempertemukan kami secara face to face.

Dia sosok yang menyenangkan. Humoris, smart, pengetahuannya luas, pokoknya apa yang ada di dirinya sama sekali tak mencerminkan bahwa ia seorang tunanetra. Yup, dialah Ramaditya Adikara. Seorang multi talenta dengan multi profesi juga.  Penulis, novelis, wartawan, dosen, komposer musik, dan motivator ulung! Tak lupa satu lagi, ia berbakat sebagai seorang komedian! Sebab ia sering membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa.

Kadang saya sedih saat mengetahui, ternyata tak sedikit orang yang menyangsikan kemampuannya. Mungkin karena selama ini pemikiran kita terbelenggu dengan paradigma ketidakberdayaan seorang tunanetra. Tapi hal itu tidak berlaku untuk seorang Ramaditya Adikara.

Pengetahuannya tentang gadget berikut cara pengoperasiannya, membuat kami terpana sekaligus ternganga.  Bagaimana seorang yang tak bisa melihat begitu lihai memainkan gadget yang hanya dimengerti oleh dia sendiri. Karena semua gadget yang ia miliki berbahasa Inggris bertempo cepat! Waw...benar-benar hebat!
Saya jadi teringat dengan seorang tunanetra di kota kelahiran saya. Namanya Eman. Ia terkenal dengan suaranya yang menawan. Lebaran kemarin saat mudik ke sana, setelah sekian lama saya baru kali itu melihatnya kembali. Masih dengan profesi yang sama yang ia tekuni sejak saya masih kecil dulu, sebagai pengamen jalanan. Tubuhnya yang kini makin menua ternyata masih setia berkeliling, dituntun istrinya yang setengah buta, menjual suara dari satu toko ke toko yang lain.

Saya langsung teringat Mas Rama. Ah, mereka sama-sama tunanetra. Bedanya Si Eman, pengamen buta itu membuat saya kasihan. Sedangkan seorang Ramaditya Adikara justru membuat saya kagum sekaligus iri, karena prestasi dan apa yang ia lakukan melebihi kemampuan kita yang normal dalam penglihatan. Membuat orang yang mengenalnya pasti akan mengagumi tanpa henti, karena sosoknya memang sangat menginspirasi.

Bravo Mas Rama, semoga sukses selalu menyertai langkah-langkahmu!

Cikarang Pusat 19 September 2014









 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik