Demi Taufiq Ismail, Saya Rela Melakukan Ini!

Dulu saya hanya bisa menemukan namanya di buku paket Bahasa Indonesia atau membaca beberapa puisinya dalam bahasan apresiasi bahasa dan sastra. Tapi kemarin, Ahad 24 Agustus akhirnya saya benar-benar bisa melihat orangnya secara langsung, di depan mata. Subhanallah...

Bermula dari undangan acara halal bihalal  yang diadakan FLP Wilayah Jakarta Raya yang memungkinkan saya bertemu dengan beliau, seorang Maestro puisi, pujangga angkatan 1966, Bapak Taufiq Ismail.
Demi acara ini, saya rela bangun pagi-pagi agar bisa tepat waktu ke Stasiun Bekasi. Bahkan dalam
keadaan perut tak terisi. Bukan tak ada sarapan, tapi nasi goreng yang saya buat di pagi buta, seolah tak ada rasanya. Susah ditelan. Terlalu excited saya kira.

Pukul setengah sembilan pagi, kereta yang membawa kami akhirnya tiba di Stasiun Jakarta Kota. Langsung jalan kaki menuju lokasi acara yang bertempat di Museum Bank Mandiri. Sayang, kami belum boleh masuk karena acara belum dimulai. Hanya diperkenankan mengisi buku tamu sebelum pintu depan.

Daripada menunggu, saya dan teman FLP lain memutuskan mencari sarapan tak jauh dari sana. Dan akhirnya pilihan kami jatuh pada gerobak soto mie yang mangkal di depan Museum Bank Indonesia.

Saat kembali ke lokasi acara, dari jarak tiga meter saya melihat seorang bapak tua berpeci dan berbaju batik lengan pendek. Aha, tak salah lagi, dialah Taufiq Ismail, sedang tergesa menuju tangga masuk museum. Adegan itu begitu cepatnya, sehingga tak memberi saya kesempatan untuk mengambil fotonya dari jarak dekat.

Rasanya sudah tak sabar menuju ke ruangan tempat halal bihalal akan berlangsung. Sebelum masuk kami kembali mengisi registrasi dahulu. Sambil antri saya iseng menjepret Pak Taufiq Ismail yang sedang duduk di deret terdepan depan dari panggung.
Begitu di dalam, saya langsung menuju deretan kursi ketiga dari depan. Kalah cepat sehingga tak bisa duduk berdekatan dengan beliau. Melihat para dedengkot FLP begitu mudahnya bercengkerama dengannya, membuat saya iri tak terkira.

Tapi kalaupun saya punya kesempatan ngobrol dengannya, apa ya yang akan saya tanyakan? Bingung juga! Secara untuk dunia perpuisian, saya termasuk pendatang baru. Hanya sekedar penikmat saja. Apalagi kalau sudah masuk ranah puisi bernilai sastra tinggi. Membicarakan tema ini sama saja mengumbar kebodohan saya sendiri, hehehe

Akhirnya saya hanya bisa terdiam melongo menyaksikan beliau membacakan bait-bait puisinya. Sebagian bersetting saat penjajahan Belanda. Sisanya tentang derita saudara kita di Palestina. Membuat mata saya sempat berkaca-kaca saat beliau mendeklamasikan puisinya dengan penuh penjiwaan dan sarat pesan tentang kemanusiaan.
Tak terasa, hampir dua jam beliau ber-orasi di depan kami melalui puisi-puisinya yang membuat saya tak beranjak sedikit pun dari kursi. Sekitar pukul 12.30 WIB, penampilannya pun usai. Bergegas ia menuju pintu keluar yang ada di sebelah kiri podium. Dan sekali saya hanya menelan ludah melihat anggota FLP senior bernarsis ria dengannya.

Kalau tahu begini, seharusnya saya keluar lebih cepat tadi. Mencegat beliau di pintu keluar agar bisa berfoto berdua. Ya, berdua saja. Lalu mungkin setelah itu saya akan meminta pendapatnya tentang puisi kelas tinggi yang katanya sulit dimengerti. Tentang puisi penuh diksi yang membuat saya ingin mengunyah isi KBBI.

Ah, semoga saya punya kesempatan itu lain kali!

Cikarang Pusat, 07 September 2014











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik