Dicekik Kartu Kredit

Awal menikah tahun 2004, pengelolaan dana rumah tangga dipegang oleh suami. Bukan karena tak percaya, hanya saja saat itu saya masih belum terbiasa memegang uang selain uang pribadi. Maklum sejak gadis saya terbiasa memiliki uang sendiri. Setelah menikah dan dalam posisi tak bekerja, saya masih sedikit gengsi untuk ikut campur masalah keuangan dengan suami.
Entah karena gaji suami yang saat itu masih sangat kecil atau manajemen keuangan yang salah, setiap
bulan kami tak mampu menyisihkan uang sebagai tabungan. Padahal waktu itu, kami masih tinggal di rumah petakan dengan sewa 250 ribu rupiah/bulan. Tidak ada cicilan rumah, cicilan kendaraan, ataupun uang listrik dan air. Gaji suami yang baru 1,1 juta rupiah saat itu raib tanpa sisa. Setelah dibagi untuk biaya makan berdua selama sebulan, belanja kebutuhan dapur, dan kirim uang buat adik-adik dan mertua.


Apa yang salah? Setelah dicari-cari akhirnya kami menemukan titik kebocorannya. Kartu kredit! Mungkin karena tak pede tak memiliki tabungan, sebelumnya suami memberanikan diri mengajukan kredit di salah satu bank swasta. Takut jika ada sesuatu hal, kami tak memiliki uang sebagai pegangan. Sehingga setiap ada keperluan keuangan secara mendadak, atau ada teman yang pinjam, pasti kartu kredit itu sebagai jawaban.

Kami tak sadar, jika tagihan kartu kredit itulah yang kian hari terasa mencekik, sebab besaran cicilan kami tak sebanding dengan bunga yang dibebankan pada total tagihan. Belum lagi annual fee yang setiap tahun naik. Mungkin kami termasuk orang yang tak tepat dan tak cermat dalam menggunakan fasilitas konsumtif yang satu ini.

Setelah menimbang-nimbang lama, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menggunakannya begitu cicilan lunas, dengan catatan kami pun harus belajar 'mengencangkan ikat pingggang'. Tak silau dengan katalog barang-barang elektronik dan diskon belanja nan menggoda yang setiap bulan dikirim bersama lembar tagihan. Atau terlalu berbaik hati meminjamkan uang yang digesek dari kartu kredit. Membuat kami pontang-panting membayarnya karena yang meminjam malah menunda-nunda pembayaran. Sementara bunga terus berkembang dan berkembang!

Ternyata ketakutan suami tak terjadi. Setelahnya, perlahan kami bisa bernapas lega. Tak gampang mabuk dengan barang diskon berikut cicilan super murah. Tak lantas nafsu melihat potongan harga yang membuat tangan gatal ingin belanja. 

Tanpa kartu kredit, hidup kami ternyata tak terlampau sulit!

Cikarang Pusat, 20 Agustus 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik