Si Kutu Buku

Seorang teman bertanya, bagaimana saya bisa punya anak yang sangat gemar membaca. Saya tak tahu pasti sebabnya. Saya jawab saja, mungkin faktor genetis. Ibu dan bapak saya suka membaca. Saudara yang lain juga sama. 

Sejak saya kecil aktivitas membaca adalah pemandangan biasa di rumah. Berbagai bahan bacaan mulai dari komik, novel, majalah anak-anak, remaja dan macam-macam majalah wanita sudah
kenyang saya nikmati. Apalagi Bapak yang kebetulan berdagang barang kebutuhan sehari-hari, sering membeli koran bekas kiloan untuk dijadikan pembungkus. Jadi berita harian lokal maupun nasional merupakan bacaan yang sedap untuk dikudap. Meski kadang infonya kadaluwarsa. Maklum surat kabar lama. 

Untuk Nayla saya tak pernah secara khusus menyuruh-nyuruh apalagi sampai memaksa untuk rajin membaca. Semua terjadi dengan sendirinya. Cuma hal rutin yang lakukan sejak ia dalam kandungan hanya membaca Al-quran hingga khatam. Saya juga menulis tiap kejadian yang dialami sejak kehamilan baru 12 minggu. Dugaan saya, barangkali karena aktivitas menulis dan membaca sejak dini itulah yang membuatnya begitu mencintai buku.

Saat ia berusia sekitar 11 bulan, saya mulai mengenalkan dengan alat tulis seperti buku dan pensil. Meski ia belum mengerti, harapan saya agar Nay terbiasa saja. Sehingga bila tiba masa belajar nantinya, jemarinya tak kaku memegang buku dan pena. 

Saat ia berusia sekitar jelang dua tahun, saya biasa mengajaknya ke pasar kaget yang biasa digelar tiap Jumat dan Sabtu dekat rumah kontrakan yang kamu huni. Nongkrong di lapak bapak tua penjual majalah bekas. Ogah pulang sebelum puas mengobok-obok segala buku yang susah payah bapak penjual itu rapikan sebelum dipajang. Membuat saya tak enak hati, dan akhirnya berlangganan membeli majalah anak murah meriah buat Nayla, yang saat itu baru mengerti gambar dan warna.

Hingga kini di usia yang belum genap 9 tahun, Nay sudah memiliki minat membaca segala jenis buku. Bahkan kadang ia ikut membaca buku koleksi saya yang notabene konsumsi dewasa dengan bahasa yang agak 'berat' untuk dicerna anak-anak. 

Enaknya, kalau liburan tak repot mengajaknya rekreasi. Piknik paling menyenangkan baginya adalah toko buku. Berlama-lama di sana hingga enggan pulang. Kadang sambil menatap penuh bintang dengan harapan saya mau memborong semua buku yang ditunjuknya! Haddeuh...

Milanur, 20 Juni 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik