Satu Anak, Cukup!



 "Kalau bisa aku ingin punya anak satu saja!"
Suatu hari seorang teman yang belum menikah berujar demikian. Ucapannya membuat saya mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Aduh, repot Mbak, kalau punya anak banyak! Tar gak keurus kayak aku dulu,"

"Ibuku juga punya anak banyak, tapi alhamdulillah, meski hidup sederhana, kesembilan anaknya tak ada yang terlantar!"
"Kita beda kultur, Mbak! Di daerahku udah biasa kayak gitu. Anak dititipin ke neneknya, ke bibinya. Contohnya aku. Punya ibu tapi malah dibesarin ama bibi."
"Alasan dititipin itu apa?"
"Ibu kandungku kerja, Mbak. Bapak pergi ke Jakarta gak ada beritanya bertahun-tahun. Sementara anaknya banyak. Ah, pokoknya tar aku pengen punya anak satu aja!" Pungkasnya tanpa mau menjelaskan lebih rinci.
Saya tak menyalahkan keinginannya tersebut. Hanya saja saya prihatin, betapa trauma ketidakbahagiaan di masa kecil harus ikut andil mempengaruhi pengambilan keputusan yang sangat penting untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Kenapa saya bilang akhirat? Karena anak adalah tabungan bagi orang tuanya kelak bila telah tiada. Tak ada penghubung di antara keduanya bila tak ada doa. Doa juga bukan sembarang doa, tapi doa yang dipersembahkan oleh anak yang soleh dan solehah.
Sekarang bisakah kita menjamin anak semata wayang akan tumbuh menjadi anak soleh/solehah? Kalaupun iya, bagaimana jika ia--seandainya-- tak berumur panjang? Pergi mendahului kita? Duhai, alangkah sedihnya masa hidup dan mati kita nanti!
Kecuali jika kita memang ditakdirkan tak bisa punya anak lebih dari satu karena alasan kesehatan atau kelainan medis yang membuat kita tak bisa punya anak lagi. Tapi itu bukan alasan untuk kehilangan harapan. Sebab doa anak soleh yang dimaksud tak hanya anak kandung, tapi bisa datang dari anak orang lain yang kita perlakukan seperti anak sendiri, seperti keponakan, anak angkat, bahkan anak-anak yang ada di lingkar kehidupan kita di masyarakat.
Jadi saya harap dengan membaca tulisan ini, tak ada lagi wanita sebagai calon ibu yang berharap punya anak  tak lebih dari satu!
Milanur 18/6/2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik