Nasib Anak-anak Bilingual


Sepertinya memang sudah resiko jika menikah dengan pasangan yang tak sedaerah harus siap-siap dengan benturan kebudayaan. Tak perlu mencakup bahasan yang luas, kali ini saya ingin menyoroti salah satunya saja; masalah bahasa.
 
Di rumah bahasa kebangsaan kami adalah bahasa Indonesia. Meski ada saat-saat tertentu saya
mengeluarkan bahasa daerah sendiri, yaitu bahasa Sambas, sebuah kabupaten di utara Kalimantan Barat, tanah kelahiran saya. Kapan itu? Saat ngomel. Rasanya hati ini puas saja, menggerutu dengan bahasa ibu, karena arti omelan saya tak akan ada yang tahu. Pun jika saya mengomeli tetangga sebelah, hehehe...

Nah, akibat omelan saya ini, Nayla, putri kami lama-lama jadi mengerti bahasa ibunya. Meski baru sedikit, tapi paling tidak itu sudah  melegakan karena ternyata putri saya memiliki ketertarikan belajar bahasa baru. Berbeda halnya jika berhadapan dengan bahasa suami, bahasa Sunda yang merupakan bahasa lokal di daerah tempat kami tinggal. Nayla kurang menampakkan minatnya. Pelajaran Mulok yang mempelajari bahasa tersebut malah membuatnya stress begitu rupa. 

Di rumah, suami memang jarang menggunakan bahasa daerahnya tersebut. Membuat Nayla tak familiar dengan bahasa ayahnya sendiri. Kadang kalau kehilangan akal, saya sering menyalahkan suami yang tak serius mengajarkan bahasa Sunda pada putri kami.

Jujur  saya juga tak mengerti apa alasan orangtua yang tak mengajarkan bahasa daerah pada anaknya. Malaskah? Atau malu? Mudah-mudahan cuma karena alasan malas. Kalau alasan malu, malu dengan siapa? Apa malu jika anaknya berbahasa daerah terdengar kampungan?

Padahal bahasa Indonesia itu cikal bakalnya dari bahasa daerah. Jika pada tiap keluarga dengan anak-anak bilingual, bahasa asal ayah ibu mereka tak dilestarikan, bukan tak mungkin di masa yang akan datang bahasa-bahasa daerah di Indonesia tinggal kenangan.

Sepertinya saya memang harus lebih intens lagi mengajarkan bahasa daerah pada putri kami. Kalau perlu ditambah bahasa daerah lain; Bahasa Jawa, Madura, Batak bahkan bahasa yang akhir-akhir ini ingin sekali saya pelajari, bahasa ngapak! :p

Milanur Almair 12/6/2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik