Cinta Abadi Memang Ada


Ini salah satu film yang sangat membekas dalam ingatan saya. Membuat tak habis pikir, apakah benar kisah cinta seperti yang dikisahkan dalam film itu, ada di dunia nyata sekarang. Film yang banyak mengambil lokasi syuting di kota Cartagena, Kolombia ini begitu melekat di benak. Padahal saya hanya sekali menontonnya
waktu itu. Judulnya Love in A Time of Cholera.
 
Film yang diproduksi pada tahun 1996 ini diambil dari novel dengan judul sama karya Gabriel Garcia Marquez, peraih Nobel yang baru tutup usia April lalu. Diperankan dengan dengan apik oleh Giovanna Mezzogiorno, Javier Bardem dan si seksi Benjamin Bratt.

Filmnya sendiri bercerita tentang cinta segitiga antara Fermina Daza, Florentino Ariza dan Dr. Juvenal Urbino. Terdengar klise memang. Tapi apa yang dilakukan oleh Florentino Ariza, pria miskin dalam tokoh utama tersebut membuat saya tak habis pikir. 

Jika tokoh Fermina melanjutkan hidup, menikah dengan lelaki lain, Dr. Urbino yang tampan dan kaya, serta bahagia. Tapi tidak dengan Florentino. Sepanjang hidupnya ia menanti Fermina tanpa menikah. Meski sisi menyebalkan tetap ada, yaitu sebagai pelampiasan rasa sakit akibat cinta yang tak mampu dimiliki karena perbedaan status sosial, ia bergonta-ganti pasangan tanpa ikatan hingga mencapai lebih dari 600 teman kencan!
Cinta itu tetap terjaga hingga 50 tahun lamanya. Florentino yang sudah menjelma sebagai kakek-kakek, dengan percaya diri kembali melamar Fermina tepat saat wanita tua itu resmi menjadi janda karena kematian Dr. Urbino yang tiba-tiba. Pada akhirnya tak disebutkan apakah mereka menikah, tapi yang pasti mereka kembali berteman seperti saat remaja dulu.

Saya jadi teringat dengan seorang teman suami, sebut saja namanya Doni. Cerita di atas hampir mirip. Bedanya kalau Doni ini kembali dipertemukan setelah wanita itu menjanda karena bercerai.

Namanya jodoh tak lari kemana. Mengetahui wanita pujaannya bercerai, Doni dengan besar hati melamarnya untuk diperistri. Meski kini semuanya tak sama lagi, ia telah berstatus janda. Dan ortu wanita tentu saja dengan senang hati menerima. Kini mereka hidup bahagia karena baru saja dianugerahi anak pertama.

Ah, cinta! Sampai kini saya tak mengerti betapa besar kekuatan dan keajaibannya dalam merubah jalan hidup manusia!

Milanur Almair 14/6/2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik