Anak Tes, Emak Stress

Jumat kemarin hari terakhir ujian kenaikan kelas untuk putri saya, Nayla, yang baru SD kelas tiga. Biasanya setiap jelang tes, selalu saya yang ketar-ketir mencemaskan kesiapannya menghadapi soal-soal ulangan nanti di sekolah. Meski sudah mendampingi belajar tetap saja khawatir dia tak mampu menjawab soal yang diberikan.

Ini mungkin pengaruh saat saya sekolah dulu. Setiap jelang tes semester, lomba bidang studi,
olimpiade fisika apalagi ujian nasional, dipastikan perasaan selalu tak nyaman. Kadang sampai membuat saya diare tanpa sebab. Seolah semua tes itu membuat saya harus berlaga di medan perang.

Mungkin perasaan was-was itu sebagian besar timbul sebagai tekanan alam bawah sadar yang menginginkan hasil terbaik yang harus diraih putri saya, sebagaimana saya saat sekolah dulu yang memang langganan juara kelas (ehm). #pake ehm maksudnya apa coba? :p

Secara tak langsung saya telah membandingkan kemampuan saya dengannya. Padahal setelah diingat-ingat, dulu orang tua santai-santai saja menghadapi anak-anaknya saat tes menjelang. Tak ada tekanan harus rangking satu. Perintah belajar juga tak terlalu menggebu-gebu.

Saya lupa, bahwa kami--saya dan Nayla-- berada di dua masa berbeda dan pribadi berbeda pula. Bahwa anak tak mesti harus mengikuti jejak ibunya. Saya tak membiarkan ia menjadi diri  sendiri. Membelenggunya dengan obsesi tersembunyi serta doktrin para ibu yang biasanya menganggap anak pintar itu harus rangking satu! Menuntut anak harus belajar dengan sangat keras dengan memberinya les ini itu, yang kadang justru merenggut kemerdekaannya masa kanak-kanaknya dengan bermain dan bergembira bersama teman sebaya! Ah, ibu macam apa saya ini? :'(

Dan kebagusan nilai di sekolah juga tak ada gunanya jika saya melalaikan pendidikan agama, akhlak dan akidah. Mudah-mudahan ke depannya, dengan pemikiran semacam ini saya bisa menjadi ibu yang lebih bijak  dalam menerapkan pola asuh dan pola didik yang tepat pada anak. Semoga!

Milanur, 15/06/2014



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik