Suami Selingkuh vs Suami Gentle



Sekitar pertengahan Maret lalu, saya mengalami hari-hari yang buruk. Bayangkan, dalam satu minggu harus menerima tiga kabar perselingkuhan dari orang-orang di sekitar saya. Dan yang menjadi korban adalah sang istri. Salah satunya bahkan sedang hamil tua, mengandung anak ketiga.
Ini membuat saya bertanya-tanya sendiri, ada apa sih dengan para suami? Mengapa selingkuh mudah sekali dijadikan pilihan?

“Kamu gimana sih jadi istri, kok suaminya bisa sampai selingkuh?”
Pertanyaan pedas itu pernah diterima oleh salah seorang istri yang suaminya kecantol wanita lain ketika dia curhat kepada sesama wanita.

Suami selingkuh, benarkah akibat kesalahan istri? Kenyataannya, ada istri yang tidak hanya baik tapi juga cantik, namun suaminya tetap selingkuh. Kalau kasus seperti ini, jelas suaminya yang buta tidak bisa melihat anugerah Allah yang jelas terdapat dalam diri sang istri.
Tapi memang ada juga kasus yang saya lihat, sang istri memiliki sifat atau karakter yang bisa membuat suami tak betah di rumah. Cara bicara dengan suami judes dan berani, suka memarahi bahkan memaki anak-anaknya. Dan sekarang, istri tersebut dalam keadaan sedih berat karena suaminya sudah lama tak pulang ke rumah, pergi bersama wanita lain.
Yang mau saya bahas di sini adalah, apakah kesalahan istri layak dijadikan alasan untuk selingkuh? Jika istri mempunyai perilaku atau kebiasaan yang sangat menjengkelkan sekalipun, layakkah suami berpaling ke wanita lain?
Dari kalimat pertanyaannya saja sudah bisa dijawab, jawabannya TIDAK. Kenapa? Karena di sini saya menggunakan kata ‘suami’.
Laki-laki yang sudah menyandang status ‘suami’ berarti juga mengemban amanah untuk melindungi, membimbing, dan memimpin sang istri dalam keadaan apapun. Selama dia masih menjadi suami, berarti ada istri—dan mungkin juga anak— yang menjadi tanggungjawabnya. Dia bukan laki-laki single yang tidak punya tanggungan dan bisa bebas memilih ke mana dia akan menginap malam ini.
Lalu bagaimana jika sang istri punya karakter yang buruk, tidak menghormati suami dan membuat suami tidak betah di rumah? Terlepas dari keharusan sang istri memperbaiki diri, saya ingin para suami SADAR akan beberapa hal ini, agar tak terjerumus dalam perselingkuhan:
1.     Dulu, dia sendiri yang memilih wanita tersebut untuk menjadi istrinya.
2.   Ingat siapa yang mengucapkan akad di hadapan penghulu, bahkan disaksikan Allah dan para malaikat? Suami.
3.  Seburuk-buruknya sifat seorang istri, bukankah dia yang menanggung kesulitan semasa mengandung dan kesakitan yang luar biasa saat melahirkan darah dagingmu?
4.   Wahai suami, you’re a leader! Anda telah memutuskan untuk menjadi imamnya. Maka jika istri berbuat salah, jangan tinggalkan dia. Tuntun, bimbing ke arah yang baik. Bukan malah lari dari masalah, sembunyi di balik pelukan wanita lain. Pemimpin yang berkulitas tidak akan lari dari masalah =)
5.   Jika ada yang tidak beres dalam rumahtangga, perbaiki, bukannya lari ke perempuan lain! Dan introspeksilah, jangan-jangan Anda yang telah salah dalam memimpin rumahtangga sehingga istri melakukan kesalahan-kesalahan.
6.   Tidak ada wanita baik-baik yang mau menjalin hubungan tak halal alias diajak selingkuh oleh pria beristri. Jadi, perselingkuhan hanya akan melempar Anda ke dalam kondisi yang tidak lebih baik. Tentunya hal itu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Maka jika sang istri berbuat salah, bersikaplah sebagai suami yang gentle, yaitu menghadapi istri Anda. Wait! Menghadapi bukan berarti “berhadap-hadapan” lho ya? =)
Jika sang istri melakukan hal yang tidak diinginkan, sabarlah dan ajak ia bicara dari hati ke hati. Hadapi dengan senyuman. Bimbing dengan penuh kasih sayang agar bisa menjadi istri yang baik. Ingat bahwa suami mengemban amanah untuk menuntun sang istri menuju ridho Allah. Cari referensi dari buku atau orang-orang yang dipercaya. Optimis dan berprasangka baiklah bahwa ia punya niat untuk memperbaiki diri. Tentunya diiringi doa untuk kebaikan keluarga, juga tawakkal kepada-Nya.
Jika segala upaya baik tidak membuahkan perubahan baik pada sang istri, kesalahannya memang teramat besar dan Anda merasa sudah “mentok” dan perpisahan memang jalan keluar terbaik, ya berpisahlah secara baik-baik. Agar seburuk apapun seorang istri, Anda tetap yang terbaik baginya. Jika memang harus berpisah, pergilah dengan meninggalkan kenangan baik. Maka di mata keluarga, masyarakat, juga Tuhan, Anda kelak tetap dikenang  sebagai suami sekaligus ayah yang  terhormat, bukan suami tidak bertanggungjawab dan tukang selingkuh. Ingat, bagaimanapun juga selingkuh tidak dibenarkan dalam agama.
Satu hal penting lagi: jangan pernah membicarakan keburukan istri kepada orang lain. Kalau memang mau curhat, curhatlah dengan benar yaitu untuk mencari solusi dan hanya kepada orang yang tepat. Waktu saya belum menikah, ada seorang rekan kantor yang sering mengeluhkan perilaku istrinya. Laki-laki itu menceritakan istrinya begini, begitu, bla bla bla. Dan parahnya, bukan cuma saya yang dibocorin rahasia keburukan istrinya. Saya jadi berpikir, duh nih orang kok ngomongin kejelekan istrinya sih? Perbuatan seperti itu, menurut saya, justru membuat diri Anda jelek di mata orang lain. Martabat istri jatuh dan kewibawaan Anda sebagai suami hilang. Sebab suami yang gentle itu tidak nggerundel di belakang sedangkan di depan istri hanya bisa diam.
Jadilah suami yang gentle, yang “berani” menghadapi kesalahan istrinya. Bukan suami cemen yang pura-pura nerimo sikap istri tapi ternyata di belakang main selingkuh.
Wallaahu a’lam bishshowab
Author: Nia Tania
foto: google image




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik