Seperti Apa Suami Idaman Anda?

 Dulu saat masih remaja, saya punya kriteria tersendiri mengenai calon suami idaman. Yang putih, ganteng, tinggi orangnya ataupun pendidikannya, pekerjaan ok, punya tempat tinggal dan kendaraan sendiri. Wow, entah berada di sisi dunia sebelah mana saya saat itu. Mungkin di negeri dongeng. Bisa juga di kerajaan awang-awang akibat kebanyakan nonton film
dan cerita romantis yang endingnya berbunyi "..and they lived happily ever after...!"

Seiring berjalannya waktu dan perubahan pola pikir dari seorang teenager menjadi wanita dewasa, perlahan saya melakukan sedikit kompromi terhadap keinginan yang terlalu sempurna di atas. Penyesuaian mungkin istilah yang lebih tepat. Kenapa? Karena tiba-tiba tanpa disengaja, saya menemukan kalimat ajaib ini di sebuah buku,"pasanganmu adalah refleksi dirimu." Hm, langsung deh nyari kaca!

Siapa saya? Yang mengharapkan sosok sempurna seperti termaktub dalam pikiran alam bawah sadar selama ini. Yang secara otomatis membuat saya mengeliminir beberapa sosok lelaki baik yang tak sesuai dengan kriteria di atas. Pengen dapat yang putih, lah kulit saya aja coklat! Pengen dapat yang ganteng, wajah saya aja tergolong ga cakep-cakep amat, STD dan pasaran. Terus, pengen dapat yang pendidikannya menjulang semampai, wong saya kuliah aja ga selesai! Duhhhh..

Setelah berpikir lama dengan seksama, tapi tidak dalam tempo sesingkat-singkatnya, akhirnya saya harus berdamai dengan  keinginan sendiri. Spesifikasi suami idaman, saya buat lebih 'tahu diri', gak maksa dan yang jelas lebih syar'i (halah..!). Jadi kriteria suami ideal bagi saya adalah yang putih, tinggi (loh ini kok masih nempel aja sih si putih ama si tinggi?) rajin sholat, sabar dan sayang keluarga. Mengenai pekerjaan bisa diterima dari bidang manapun, selama itu halal dan tidak melanggar hukum. Dan kendaraan? Ah, gampang itu bisa menyusul.
Oh ya, sedikit penjelasan tentang poin putih dan tinggi. Kenapa saya ngotot ingin mendapatkan suami seperti itu. Jujur, alasan ilmiahnya saya tidak tahu. Mata ini selalu terhipnotis dengan sosok pria berkulit 'bening' dan menjulang. Lelaki begini gak pusing memilihkannya baju, warna apa saja cocok. Dan cowok putih di tengah keramaian lebih gampang dideteksi, berkilau sendiri..hehe.

Terus lelaki jangkung enak jika disuruh mengambilkan sesuatu di tempat tinggi (mirip iklan susu itu). Gampang juga buat disuruh bersihin langit-langit, mengganti lampu atau disuruh metik buah mangga dan jambu!(Mau nyari suami apa kacung sih, Neng?) Menurut saya, kekurang idealan fisik yang lain seolah menjadi tertutupi oleh dua ciri khas tersebut. Minimal lebih putih dan lebih tinggi dari saya sendiri! Jika akhirnya dapet suami yang 'hanya' 168cm, its oke, yang penting kriteria lain terpenuhi.

Setelah sekian lama baru saya mengerti kenapa begitu suka dengan cowok yang punya dua ciri khas tersebut, lewat artikel yang saya baca di sebuah majalah wanita. Menurut teori para ahli, dalam memilih pasangan, manusia cenderung mencari sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang ada pada dirinya. Dan berusaha menemukan kelebihan itu pada diri pasangan. Seperti saya yang berkulit coklat dan semampai (1,56m tak sampai) cenderung menyukai lelaki yang tak berciri seperti saya, tidak putih dan tidak tinggi. Seolah secara tak sadar, saya berupaya ingin 'menambal' semua kekurangan pada diri ini lewat lelaki yang akan mendampingi hidup saya nanti.

Dan ajaib! Saat saya tanyakan pada lelaki yang sekarang menjadi suami saya, ternyata dia juga melakukan hal yang sama; mencari seseorang yang memiliki sesuatu yang tidak ia punya. Katanya dia suka dengan tingkah saya yang rame, bisa  mengimbangi dirinya yang pendiam. Ceileee,  pasar malam kali’ rame, Kang! Sikap dan karakter kami memang bagaikan langit dan bumi. Saya yang cerewet, ga sabaran, suka hal-hal romantis, hobi baca, hahahihi geje, gampang berteman akhirnya harus takluk bersanding dengan lelaki pendiam, introvert, kaku, sabar dan pemalu seperti dia. Terasa menikah dengan batu menhir saja!

Sepertinya teori itu sedikit banyak ada benarnya. Lihat saja bule-bule yang menikah dengan wanita Indonesia. Rata-rata mereka tertarik dengan wanita berparas eksotis alias wajah Indonesia medok, misalnya Melaney Ricardo, chef Farah Queen, aktris Santi, pelatih vokal Bertha, istri Christian Gonzalez, istri Jono bassis Gugun Blues Shelter dan lain-lain.

Contoh lain tak usah jauh-jauh, saya coba memperhatikan tetangga kanan kiri. Benar juga sih. Ada yang suaminya putih, istrinya hitam. Istrinya galak, suaminya pendiam. Ada istrinya pendek, putih, cantik dapat suami tinggi, hitam dan gak cakep..hehehe. Ssst, pesan nenek, jangan suudzon dulu kalau melihat wanita cantik bersuami jelek. Mungkin justru lelaki jelek itulah yang pandai memuliakan dan menyenangkan hati istrinya dibanding lelaki yang bertampang rupawan, tapi tak lihai membahagiakan wanita.

Layaknya dua kutub magnet berbeda yang justru malah menimbulkan gaya tarik menarik. Adhesi dan kohesi. Ion positif dan negatif. Begitulah, jika unsur cinta sudah memainkan peranannya, hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Jika dipikir-pikir rasanya lucu juga membayangkan seandainya suami isteri berkarakter sama, dua-duanya pendiam misalnya. Rumah mereka mungkin bakal hening dan sepi laksana istana berhantu. Seperti dua batu nisan yang tak saling bicara meski berdekatan. Wah, gak kebayang, kalau saya di posisi itu! Bisa-bisa lumutan dan kena halitosis nih mulut kalau seharian gak ngobrol dengan suami!

Dan poin yang tak kalah penting dari kriteria suami idaman saya adalah poin ketiga; rajin sholat. Sekali lagi ini saya kembalikan pada teori di atas. Bahwa saya mencari sesuatu yang tidak ada atau kurang pada diri pribadi. Saat jahiliyah dulu, jujur sholat dan ibadah yang lain masih belang-belang. Maklum jauh dari orang tua, gak ada yang nyemprit, marah dan ngomel kalau ketahuan belum atau tidak sholat. Jadi saat memilih suami, saya ingin seseorang yang rajin shalat, agar saya bisa selalu berada dalam atmosfer ini. Ada seseorang yang tindak tanduknya otomatis mengingatkan saya untuk shalat lima waktu full. Apalagi shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab. Jika shalatnya terjaga baik, InsyaAllah amalan-amalan lain ikut baik. Dan alhamdulillahh semua terwujud karena kebetulan latar belakang suami berasal dari lingkungan pesantren.
Di kampungnya adalah hal aneh jika menemukan laki-laki shalat wajib di rumah. Shalat lima waktu umumnya dilakukan di masjid berjamaah. Saya tidak sedang mengatakan bahwa suami saya lelaki paling sholeh di sini, tapi jika dibanding saya, dia jauh lebih baik sholatnya. Karena sampai saat ini, walau tak belang lagi, untuk sholat tepat waktu saja, saya masih bersusah payah untuk membuatnya kontinyu. Kadang malu juga, di sela waktu padatnya, suami masih sempat tilawah beberapa baris sepulang subuh di mesjid. Sedang saya yang full di rumah, untuk menghabiskan 1 juz sehari saja berat sekali. Rajinnya saat Ramadhan doang! (Maafin Bunda yang belum bisa jadi istri solehah, ya Ayah? Hiks!!)

Poin ke empat yang saya tekankan adalah suami yang sabar. Saya yang aslinya memang sudah ga sabaran termasuk tipe granat, gampang meledak, anarkis lagi. Dulu, jika emosi merajalela, daripada berteriak, saya lebih nyaman melampiaskan kemarahan dengan membanting daun pintu, melempar gayung di kamar mandi, bahkan membanting apa pun yang ada di sekitar saya tanpa berkata-kata. Gubrak gabruk deh judulnya. Dengan pembawaan suami yang kalem, sedikit banyak mampu menetralisir 'aliran garis keras' yang saya bawa. Mudah-mudahan ke depannya bisa ketularan sabar dan kalem seperti dia.

Tibalah di poin terakhir, calon suami saya harus seseorang yang sayang keluarga. Saat belum menikah dulu, saya melihat sendiri bagaimana suami berjuang keras bekerja membayar sendiri uang kuliahnya yang kebetulan masih satu kampus dengan saya. Membiayai adik-adiknya yang masih sekolah, juga menjadi tulang punggung keluarga. Dengan ortu dan saudaranya saja dia bisa seloyal itu, apalagi dengan pasangan hidupnya nanti. Rasa sayang mendalam mencetuskan sikap tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab tinggi berdampak pada giatnya ia berusaha dan bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya nanti. Well, itulah poin terakhir yang membuat saya menganggukkan kepala saat ia berniat ingin mempersunting saya menjadi istrinya.

Dari sekian banyak pria yang pernah saya kenal, dia mungkin bukan lelaki sempurna, kaya, tampan, ningrat dan terpelajar di antara mereka. Tapi apapun itu, saya sangat yakin dia adalah lelaki terbaik yang sudah Allah persiapkan untuk saya. Dengannya saya belajar sabar. Bersamanya saya 'dipaksa' mengelola amarah. Di sisinya saya lebih bijak berperilaku. Membuat saya optimis untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik dan manfaat dari sebelumnya, dalam sikap, tindakan maupun kata-kata. InsyaAllah!

Jadi, buat para wanita lajang yang sedang menanti pasangan, seperti apa suami idaman anda??

Cikarang Pusat, 20 Februari 2014
*Foto: Google

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik