PLN...What Happen?


Sudah dua bulan tagihan listrik saya tidak seperti biasanya. Bulan kemarin hanya bayar abodemen saja. Bulan ini besar tagihan berada di angka 70 ribu rupiah, angka tak lazim. Karena biaya yang saya keluarkan untuk tagihan listrik  berkisar di angka 130 ribuan. Kadang kurang kadang lebih.

 Saya sudah meminta penjelasan dari petugas pencatat meteran listrik. Dia hanya mengatakan bahwa mungkin data pencatatan yang ia lakukan belum masuk ke pusat. Atau bisa jadi tagihan listrik saya sebelumnya berlebih, sehingga kelebihan di-reverse ke tagihan bulan selanjutnya.

Jika memang benar ilustrasi petugas seperti itu, saya bisa bernafas lega. Tapi yang saya khawatirkan adalah kasus yang terjadi pada dua tetangga saya sebelumnya. Mereka mengalami persis seperti saya, tagihan listrik yang tak wajar,kurang dari normal. Hingga beberapa bulan sesudahnya tagihan listrik membengkak 500-700% dari biasanya. Membuat mereka kelabakan karena harus menyiapkan dana ekstra di luar perkiraan.

Dan beberapa hari yang lalu, kepanikan juga sedikit terjadi pada pelanggan PLN baru yang rata-rata menggunakan token listrik. Pelanggan tak bisa membeli pulsa listrik di merchant manapun, kecuali via transaksi di ATM. Itupun kode token yang didapat sulit diinput dan harus menghubungi petugas PLN. Saat komplain ke layanan pelanggan, mereka hanya mengatakan sedang terjadi gangguan internal di pihak PLN.

Dan yang paling mengenaskan kemarin dan malam sebelumnya. Pihak PLN memutuskan aliran listrik tanpa ada pemberitahuan sedikitpun, setelah sebelumnya melakukan pemadaman berulang-ulang setiap hari. Selama hampir 22 jam kompleks kami gelap gulita di malam hari. Di siang hari membuat saya mati kutu tak bisa beraktivitas normal seperti biasanya.

Sepertinya jika pelayanan masih menyebalkan seperti ini, rencana kenaikan tarif dasar listrik oleh pihak terkait mungkin bisa ditinjau ulang. Seperti pepatah Tionghoa,”Ada rupa, ada harga, hoo?” 

Cikarang Pusat, 14 Mei 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik