Korban Sosmed



"Masak gak ada lagi model yang lain sih, Pak?" Terdengar nada kecewa. Suara gadis muda nampaknya. Setelah sekian hari tanpa pembeli, akhirnya ada juga yang nyasar di toko yang terletak persis di pinggir kiri jalan raya Kalimalang, bersisian dengan jalur Tol Jakarta Cikampek. 

"Gak ada, Neng! Adanya ya gini-gini doang," jawab penjaga toko sambil garuk-garuk kepala. Pasrah!
Foto: Mbah Google
"Ini modelnya biasa banget, Pak! Warnanya juga norak-norak. Saya pengen model yang up to date, yang minimalis kek atau yang futuristik gitu." Kata-kata pemilik tubuh montok itu meluncur
jujur.

"Itu model apa, Neng? Kagak ngerti saya mah!" Penjaga toko kembali berujar sambil nyengir memamerkan deret giginya yang kuning kehitaman. Bingung juga mendengar kata-kata asing di telinganya.

"Ih, Si Bapak, gimana sih? Itu loh model jaman sekarang!" Si gadis memonyongkan mulutnya yang memang sudah mancung akibat behel yang berjejer menemani gusinya.

"Emang yang kayak gimana, Neng? Ada contohnya gak?"

"Saya jelasin ya? Saya tuh pengen yang ada tempat pajangan fotonya, trus yang ada jambangan buat naroh bunga segar nempel di kanan kiri. Trus ada tempat buat menyimpan kertas komentar atau kesan dan pesan gitu!"

"Kayaknya Bapak belum pernah liat Neng, emangnya ada ya model kayak gitu?"

"Kalau belum ada ya diadain dong Pak! Inovatif dikitlah! Trus nanti warnanya yang gradasi ya? Usahain yang ada lampu kelap-kelipnya biar blink-blink di malam hari! Biar tetap eksis!" Gadis itu menaikkan kedua alisnya penuh semangat.

"Waduh, nggak ngerti Neng! Soalnya Bapak cuma jagain toko, yang bikin mah orang lain."

"Ok, kalo gitu, saya pesen aja ya! Nanti bapak buat modelnya sesuai dengan yang saya minta tadi!"

"Bisa digambar aja Neng? Biar nanti Bapak terusin ke yang buat!" 

"Mana kertas ama pulpennya?" Gadis tadi duduk dan menaruh tas kecil di pangkuannya.

Bapak penjaga toko berteriak memanggil jongosnya untuk mencarikan kertas dan pena. Setelah dapat, gadis tadi dengan semangat mengikat rambutnya yang super lurus dan keperakan. Mulai mencoret-coret membuat design sesuatu setelah menerima alat tulis yang disodorkan Bapak penjaga toko.

"Nih, yang kayak gini ya, Pak," ucapnya sambil menyodorkan kertas ke hadapan penjaga toko.

Wajah tua dan lugu itu mengkerut melihat apa yang ada di kertas tersebut. Baru saja ingin membuka mulut, si gadis mulai mengoceh lagi.

"Pokoknya saya pesen yang persis kayak gini ya, Pak? Gak boleh beda gambarnya!"

"Ng...eh iya, Neng! Trus ukurannya gimana?"
 
"Ya ukurannya standarlah, Pak!"

"Trus mo diambilnya kapan, Neng?" Penjaga toko tiba-tiba merinding dengan ucapannya sendiri.

"Ya, nanti dong, Pak! Bapak kan liat sendiri saya masih berdiri di sini. Nanti kalau sudah jadi, kontak saya di nomor ini, ntar ada orang yang bakal ngambil kalau waktunya sudah tiba!" Kembali si rambut perak berucap mantap sambil menuliskan deretan nomor di kertas.

Setelah membayar sebagian uang muka, gadis tadi meninggalkan toko dengan wajah senang. Penjaga toko hanya manggut-manggut tolol. Masih merasa janggal dengan kejadian yang dialaminya. Menengok kertas di tangan lalu membandingkan sambil mengedarkan pandangan ke arah batu-batu nisan yang berjejer di halaman toko yang juga menjual batu-batu alam.

"Budak ayeuna, aya-aya wae," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Cikarang, 16 Mei 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik