Kenapa Dikit-dikit Caesar Sih?

Membahas tema ini memaksa saya mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Waktu itu saya menjenguk teman lama--sebut saja Dewi--yang baru saja melahirkan anak pertamanya setelah bertahun-tahun menanti buah hati. Bayi laki-laki yang sehat dan montok itu memang benar-benar istimewa terlepas dari kehadirannya yang sangat ditunggu. Selain tampan, berat badannya saat dilahirkan juga termasuk tak biasa yaitu 4,1 kg. Yang paling mengesankan teman saya itu melahirkan dengan cara normal.
Sambil mengucap syukur Dewi pun mengurai cerita. Bagaimana perjuangannya
melahirkan si bayi. Dari mulai dana yang sangat menipis, karena bulan-bulan terakhir jelang kelahiran, suaminya malah kena PHK. Hingga bagaimana ia bertahan  melahirkan secara normal saat bidan menyarankan untuk dirujuk  ke RS terdekat agar melahirkan via operasi caesar saja. Saat hamil tua Dewi jarang memeriksakan diri ke dokter dengan alasan menghemat biaya, sehingga ia tak mengetahui berapa berat badan janin yang ada di perutnya.

Sambil menahan sakit ia mengkalkulasi besaran biaya yang harus dikeluarkan jika ia memilih jalan operasi. Minimal ada uang 10 juta rupiah yang harus ia pegang sebagai cadangan.
Karena yakin suaminya tak bakal punya jalan keluar untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, dengan penuh keyakinan, ia menyatakan pada bidan yang menangani bahwa Insya Allah ia akan berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan secara normal.

Meski harus di-vacuum, bayi mereka akhirnya lahir selamat dengan proses normal. Sebelumnya ia juga wajib menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pihak klinik bersalin yang menangani lepas dari tuntutan hukum jika ternyata terjadi sesuatu hal buruk akibat ketidaksediaannya menjalani operasi caesar seperti yang disarankan.

Cerita selesai. Saya kembali menjenguk teman lain yang juga melahirkan dalam waktu yang berdekatan. Bayinya perempuan. Cantik seperti ibunya yang berdarah Palembang. Bedanya kali ini teman saya itu, sebut saja Rini, melahirkan secara caesar. Saya pun heran, apa yang terjadi hingga ia melahirkan di meja operasi.

"Kelilit tali pusar ya, Rin?"

"Gak, normal kok."

"Apa bayimu kegedean?"

"Baby-ku cuma 2,3 kg. Gede apanya?"

"Trus, kenapa lahirannya kok di-caesar?"

"Pengen aja. Aku gak mau ngerasain sakit melahirkan. Apalagi sampe disobek dan dijahit ama dokter! Hiii...,"ucapnya sambil bergidik.

"Owhh, emang gak sayang uangnya, Rin?"

"Gaklah, kan ditanggung perusahaan suamiku. 100% lagi."

"Oooo...!"

Tiba-tiba saya teringat pada Dewi. Ah, Dewi nasibmu tak seberuntung Rini. Tapi entah kenapa, saya lebih mengaguminya karena ia rela bertaruh nyawa menahan sakit demi menghadirkan buah hati tercinta ke dunia.

Cikarang Pusat, Mei 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik