Ciri-ciri Suami Sayang Istri #2



Banyak yang heran dan bertanya, bagaimana saya bisa melenggang terus ke Jakarta Design Center untuk mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan Mbak Asma Nadia dan Pak Isa Alamsyah. Dari segi biaya, menurut sebagian orang, apalagi untuk kalangan ibu rumah tangga seperti saya, itu harga yang cukup mahal. Meski setelah mengikutinya, kata 'mahal' itu langsung lenyap tanpa sisa dari kepala, mengingat betapa banyaknya ilmu yang didapat di sana.
Entahlah! Saya tak tahu jawaban pastinya. Saya cuma bisa mengatakan itu berkah dari Allah. Berkah
yang tak terhingga malah. Berkah dari segala sisi, dari apa-apa yang saya punyai sekarang ini.

Pertama, berkah rejeki. Saya hanya ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus rumah, suami dan satu orang putri. Sebagai tambahan pemasukan agar dompet saya tak melulu dihiasi lembaran hasil nafkah materi dari suami, saya juga berjualan pulsa elektrik dan barang plastik bermerk terkenal. Lumayanlah buat tambahan beli gula, garam, dan alas bedak!

Nah, biaya sebesar 400 ribu rupiah itu lumayan juga, karena satu kali workshop nilai nominalnya melebihi biaya stok beras untuk makan sebulan ditambah tagihan listrik. Apalagi untuk yang berotak bisnis seperti saya, mungkin akan lebih senang jika uang sebesar itu diputar kembali buat modal. Alhamdulillah, Allah selalu memberi kelapangan rejeki. Meski biaya workshop itu melulu terbit melalui tangan suami. Karena jika dari saya, ya itu tadi, uang tak pernah 'nyangkut' lama, habis dipakai untuk modal usaha.

Kedua, berkah waktu. Beruntung workshop diadakan hari Sabtu atau Minggu, tepat saat suami sedang tak ada jadwal event gathering hari itu, sehingga saya bebas meninggalkan putri saya tanpa rasa cemas. Selain sebagai karyawan, suami juga nyambi sebagai guide freelance di sebuah event organizer milik rektor universitas tempat ia kuliah dulu. Biasanya kalau sedang sibuk, tiap Sabtu atau Minggu suami piknik gratis. Kadang saking cintanya sama pekerjaannya yang satu ini, ia rela mengajukan cuti. Terutama untuk gathering perusahaan berskala besar atau jika crew diwajibkan menginap karena event diadakan di luar kota.

Ketiga, berkah sehat. Dua kali berkesempatan mengikuti workshop bulan Maret dan April, alhamdulillah, pada hari -H, saya sekeluarga dalam keadaan sehat wal 'afiat. Mengingat bulan sebelumnya, saya dan suami sempat tepar beberapa hari gara-gara radang tenggorokan. Juga akhir Maret lalu putri kami juga terpaksa dirawat empat hari di RS akibat gejala typus.

Keempat, berkah silaturahim. Karena silaturahim, saya jadi punya teman jalan sekaligus guide virtual sehingga saya jadi tahu informasi rute-rute yang harus dilalui. Mengingat selama menikah saya tak pernah ke mana-mana sendirian apalagi jarak jauh. Seringnya ditemani saudara atau suami.

Terakhir, berkah suami. Ini mungkin kunci dari keseluruhan berkah yang saya rasakan. Suami dengan ikhlas uangnya saya habiskan untuk mengikuti dua kali workshop. Yang jika ditotal itu sama dengan fee yang ia dapatkan selama tiga hari sebagai crew! Belum lagi buat transport, jajan, beli buku dan lain-lain. Ia ridho melepas saya keluar rumah dengan kepercayaan penuh untuk berbaur bersama orang-orang yang ia sendiri pun tak pernah kenal. Dengan senang hati menjaga putri kami meski hanya sehari. Tak semua suami 'kuat' lho menjaga anak seharian, sendirian pula. Apalagi putri saya, Nayla, termasuk yang 'rewel' dan susah diatur kalau sudah menyangkut urusan makan dan mandi.

Saya sendiri juga heran, bagaimana ia bisa seloyal itu memfasilitasi keinginan dan hobi menulis istrinya, yang belum menunjukkan hasil signifikan dari segi materi selain dua buah buku antologi keroyokan, halah! Saat istri-istri yang lain nelangsa tak punya kesempatan untuk mengikuti workshop karena kendala biaya, waktu, izin suami dan juga karena jarak yang jauh. Saya dengan mudahnya menggapai itu semua.

Dua hari lalu, saat istirahat siang, iseng saya tanyakan hal itu pada suami. Dan ia berkata begini,"Ayah tahu diri, Bun! Ayah belum bisa membahagiakan Bunda secara maksimal dalam bentuk materi. Banyak kebutuhan dan keinginan Bunda yang belum bisa Ayah penuhi. Paling tidak, dengan mengijinkan dan membiayai kegiatan yang sangat Bunda idam-idamkan, itu bisa sebagai pengganti kebahagiaan lain yang belum Bunda dapatkan selama ini. Ayah sudah sangat senang melihat Bunda bahagia."

Melted! Ucapan suami membuat saya tak bisa berkata apa-apa. Hanya mampu memeluknya sebagai tanda terima kasih sambil mengusap mata yang tiba-tiba basah! Terharu saat mengetahui bahwa ada orang lain yang begitu peduli dengan kebahagiaan kita!

"Tidak ada yang membuat laki-laki terlihat lebih elegan dan berwibawa selain kebahagiaan istrinya!" (Mario Teguh)

*dedicated to my hubby, terinspirasi dari pic yang di-share di grup BBM

Cikarang Pusat, 24 April 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik