Bertemu Penulis Legendaris




Anda pasti tahu serial Lupus, bukan? Jika tak tahu dan anda lahir di bawah era 2000-an, sungguh sangat keterlaluan! Sama keterlaluannya seperti saya yang tidak tahu wajah Hilman Hariwijaya karena belum pernah bertatap muka! Haddeuh!

Siapa yang tak kenal Lupus, cowok fiktif yang ngetop di era 80-an dengan jambul dan permen karet, tokoh sentral dalam novel besutan penulis legendaris Bang Hilman, begitu sapaan akrabnya. Kenapa saya sebut begitu, karena karyanya yang satu ini begitu fenomenal. Baik dari
penjualan serial novelnya sendiri, maupun saat cerita ini difilmkan. Yang membuat Ryan Hidayat (alm), aktor pemeran Lupus jadi naik daun. Begitupun ketika diadopsi dalam bentuk sinetron. Tentang Lupus bisa baca di sini.  
   
Ahad 11 Mei 2014 kemarin, saya berkesempatan bertemu dengan penulis yang kini sibuk menjadi penulis skenario sinetron kejar tayang yang wara-wiri di TV swasta ini, di seminar kepenulisan yang bertempat di Aula Pasca Sarjana Universitas Islam Empat Lima (Unisma) Bekasi yang digagas oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Bekasi. Tema yang diambil adalah 'The Secret of The True Story, Jadikan Kisah Nyatamu Sebagai Cerita Inspiratif".

Disamping menampilkan Hilman Hariwijaya, juga hadir pembicara tamu yaitu Ifa Avianty, penulis yang telah melahirkan 40 buku dan puluhan antologi. Sayang karena sesuatu dan lain hal, Boim Lebon tidak bisa hadir.

Bang Hilman, begitu sapaan akrabnya dengan gamblang memaparkan bagaimana kisah nyata bisa menjadi cerita yang ‘meledak’ sebagaimana yang terjadi pada serial Lupus. Lupus dkk sejatinya adalah gambaran kehidupan yang diambil dari keseharian Bang Hilman dan teman-temannya. Tak heran jika tokoh dalam serial ini begitu hidup dan melekat di benak pembaca.

Saat saya mengajukan pertanyaan profesi mana yang lebih ber’masa depan’, menulis buku atau skenario? Pria kelahiran Jakarta, 25 Agustus, 49 tahun lalu ini dengan jujur mengatakan bahwa saat ini baginya penulis skenario lebih menjanjikan, meski masing-masing punya kelebihan dan juga kekurangan. Sebab penulis buku dibayar berdasarkan royalti dari jumlah buku yang terjual, sedangkan penulis skenario dibayar tiap episode yang tayang. Jika tayang tiap hari berarti dibayar per hari juga. Kecuali buku yang dihasilkan benar-benar booming semacam Harry Potter yang membuat J.K Rowling mampu mengalahkan Ratu Inggris dari segi total kekayaan. 

Dan perbedaan lain adalah jika buku umumnya karya perorangan, maka penulis skenario biasanya bekerja dalam satu tim. Meski begitu, ia tak menampik jika penulis skenario akan lebih bagus jika dasarnya berangkat dari kegiatan tulis-menulis, seperti menulis cerpen ataupun novel seperti dirinya.

Hm, ternyata jadi penulis bisa jadi gerbang untuk merambah profesi lain ya?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik