Anda Siap Dipoligami?



Ada rasa khawatir kalau sudah bicara tentang tema yang satu ini. Meski saya berusaha untuk yakin bahwa suami Insya Allah tak akan melakukan praktek ini, but who know? Bukankah manusia makhluk dinamis? Berkembang dan mengalami perubahan sesuai pergeseran zaman. Persis kata Bang Iwan Fals dalam salah satu lirik lagunya,” Hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari. Entah lusa nanti. Entah !!” Hiks, kasihan bininya Bang Iwan, dicintai sehari doang! :p
“Mungkin gak ya, Ayah nanti kawin lagi?” Saya pernah iseng membahas tema ini dengan suami. Saat
itu kami sedang siap-siap tidur siang.

“Bisa jadi, kemungkinan selalu ada,” ucapnya mantap. Refleks jari ini menyarangkan cubitan cabe rawit hingga ia mengaduh memegangi kulit berbantal lemak di perutnya.

“Emang ada niat gitu?” tanya saya menyelidik.

“Ada, dong! Normal laki-laki pengen istri lebih dari satu. Bosan kali makan sayur asem melulu hehehe,” iddiihh, disamain ama sayur asem eyke!

“Emang kuat ngasih nafkahnya? Punya bini satu aja belum tentu bisa nyukupin!”

“Kalau belum dicoba kan belum tahu!” Ia terkekeh kesenangan. Sepertinya memang suka melihat istrinya seperti orang kebakaran jenggot, eh jilbab!

“Eitt, ngasih nafkah itu gak cuma nafkah batin loh! Nafkah lahir juga! Bunda gak mau ya tinggal serumah ama istri kedua Ayah, huh! Emang udah ngerasa mampu secara materi?”

“Makanya Bunda doain dong, biar Ayah cepat kaya!”

“Gimana mo didoain kaya, orang niatnya mau kawin lagi! Wek!”

“Hm, gitu ya? Pantesan Ayah kok gak kaya-kaya! Teman Ayah rata-rata sudah jadi manajer, punya mobil sendiri, kita begini-begini aja!”

“Bersyukur Ayah! Jangan liat ke atas mulu! Belagu sih, belum mapan aja udah mikir pengen kawin lagi!” Saya mencibir,”lagian kalo mau nikah lagi juga banyak syaratnya Yah, bukan karena mampu nafkahin lahir batin. Gimana dengan masalah perasaan, trus tanggung jawab pendidikan agama anak dan istri nanti? Trus nanti bisa adil gak? Adil yang sebenar-benarnya loh!”

“Iya, Ayah tahu. Cuma becanda kok, Istriku! Segitunya! Takut banget mau dimadu!”

“Abis Ayah sih yang mulai! Pake nyamain Bunda ama sayur asem lagi!” Saya pura-pura merajuk.

“Insya Allah, satu cukup buat Ayah! Ini juga gak abis-abis kok! hehehe” haddeuh, dikira air isi ulang kali bisa habis!

“Tapi jujur, sebenarnya Bunda gak papa kok kalau Ayah mau poligami!”

“Bener nih?” Wajahnya tiba-tiba berubah jadi sangat jenaka. Dengan alis diangkat-angkat. Genit!

“Boleh, Yah! Tapi ya syarat dan ketentuan berlaku. Pertama sesuai dengan syarat yang ada di UU Perkawinan ya, misalnya kalau Bunda sakit, gak bisa menunaikan kewajiban sebagai istri. Trus nanti kalau misalnya Bunda koit duluan. Tapi sebelum itu Ayah harus bikinin dulu rumah yang besar dan bagus buat Bunda dan anak kita. Depositonya yang kira-kira cukup buat biaya seumur hidup sampai usia pensiun. Asuransi pendidikan buat anak-anak sampai kuliah. Terus...”

“Hoaaammmh...ngantuk ah! Kebanyakan syaratnya!” ujarnya sambil membalikkan badan.

“Masih belum selesai, Ayah! Denger dulu! Nanti istri keduanya, Bunda yang nyariin. Gak boleh lebih cantik dari Bunda. Agamanya harus bagus. Kalau perlu cari yang janda miskin atau yang gadis tapi udah expired. Terus...Yah..Yah!”

Saya mengguncang tubuh suami. Sayang, yang terdengar hanya suara ngoroknya. Dia malah sudah jatuh tertidur. Capek deh!

#kenangan saat masih tinggal di rumah kontrakan

Cikarang Pusat, Mei 2014

Foto: google image



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik