A Day Without Angry, Can We?



Minggu siang nan panas di angkot yang ngetem dari pintu keluar Tol Cikarang Barat. Saat sedang asyik mengetik SMS agar suami menjemput di titik yang telah saya tentukan, seorang gadis tak sengaja menyenggol tangan saya yang sedang menggenggam HP saat masuk dengan barang belanjaan bejibun. Pyarrr...! Smartphone kesayangan saya pun sukses termutilasi di lantai angkot.
Tak ada kata maaf yang terucap saat menyaksikan saya memunguti satu persatu bagian ponsel yang berserakan. Saat itu ingin rasanya mendamprat si gadis sejadi-jadinya. Tapi sesuatu dalam diri menahan saya berbuat demikian. Sebagai gantinya saya tak menoleh sedikitpun pada wajah gadis yang memilih duduk di pojokan. Agar tak terekam dalam ingatan dan membuat saya menyimpan dendam jika suatu waktu bertemu kembali dengannya.

Belum hilang rasa kesal, saat turun si sopir berbuat ulah. Ia meminta ongkos dua kali lipat dari seharusnya setelah melihat lembaran keunguan yang saya keluarkan. Aji mumpung. Saya pun memilih mengobok-obok tas untuk menemukan lembaran dua ribuan. Dan si sopir hanya nyengir karena gagal memerdayai penumpang yang jarang naik angkot seperti saya. Saya lebih sering bepergian diantar suami dengan motor kesayangan kami.

Saat naik angkot berikutnya, kesabaran kembali diuji. Angkot yang saya naiki tak kunjung bergerak, menunggu penumpangnya penuh. Panas, debu dan keringat membuat pikiran gampang kusut. Hasilnya salah satu penumpang dengan tegas saya ‘usir’ karena mulai merokok di dalam angkot. Beruntung dia mengerti.

Kembali saya coba menelepon suami, hasilnya malah mailbox. Pantas saja di-SMS gagal. Saya mengontak ipad putri saya. Menanyakan keadaannya selama ditinggal beberapa jam dan ternyata hampir jam dua, putri saya belum makan siang! Makin tersulut emosi saat suami melaporkan bahwa ponselnya mailbox karena baru saja tercebur got. Oh my god! Arrrrghh...

Sebelum darah naik ke ubun-ubun, saya memutuskan menenggak air putih untuk beberapa kali tegukan. Lumayan membuat emosi mereda. Tarik napas dalam-dalam. Putri saya belum makan pasti ayahnya gagal membujuknya seperti biasa. Dan HP tercebur got? Mungkin ini saatnya untuk membelikan suami ponsel baru, karena sudah lumayan lama juga menemaninya sebagai partner saat bertransaksi pulsa.

Sepanjang angkot melaju, saya merenung. Hanya dalam tempo beberapa menit, sudah berapa kali saya hampir marah. Beruntung saya masih mengingat kalimat bijak yang mengatakan bahwa marah adalah  proses menghukum diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat orang lain. Juga kata mutiara yang berbunyi,"Sesuatu yang dimulai dengan rasa marah biasanya akan berakhir dengan rasa malu." Dan satu yang pasti, marah tak membuat kita awet muda.

Saya juga meresapi benar bahwa marah asalnya dari setan. Jadi harus berusaha untuk dilawan. Apalagi para ilmuwan juga sudah memaparkan beberapa fakta empirik tentang akibat buruk yang ditimbulkan dari sikap yang satu ini. Diantaranya beberapa penyakit mematikan seperti stroke, serangan jantung dan depresi berkepanjangan. Jadi sepertinya memang tak ada gunanya kita memelihara marah.

Saya pun senyum-senyum sendiri. Pikiran kembali tenang dan damai. Ternyata hidup tanpa marah itu benar-benar menyenangkan!

Cikarang Pusat, 26 Mei 2014

foto: google image

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik