Ternyata, Begini Rasanya Bertemu Asma Nadia!



Saya mengenal penulis wanita ini mungkin sudah belasan tahun lalu, lewat karyanya yang bertebaran di perpus mini milik kakak lelaki yang nomor lima. Dulu cuma kenal nama, tak tahu bentuk, warna apalagi rupanya( aiih, emang apaan? :p).

Cerpennya yang paling berkesan adalah tentang muda-mudi Palestina, Ayyash dan Ayesha. Saking terkesannya dengan cerita itu,
hingga saya berencana kalau punya anak nanti bakal diberi nama Ayesha kalau perempuan dan Ayyash jika laki-laki. Sayang, saat putri saya lahir, nama itu tak terpilih dari tiga nama yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Tapi nama Ayesha akhirnya tersemat pada keponakan, anak perempuan dari kakak laki-laki yang memiliki perpus mini tadi. 

Beberapa waktu kemudian saya melihat namanya terselip di majalah wanita yang biasa saya baca. Saya lupa beliau sebagai apa, tapi setelah beberapa waktu nama Asma Nadia tak tercantum lagi di majalah tersebut.  Kembali saya melupakannya. Paling hanya melihat dirinya muncul sebagai nara sumber televisi atau majalah.

Beberapa tahun belakangan saya menemukan namanya lagi di Fanpage Facebook. Statusnya biasa berupa cuplikan quote, dialog atau narasi dari karya-karya beliau yang telah dibukukan. Karena penasaran saya pun me-like FP miliknya.

Dari status-status FP itulah saya tahu ternyata penulis  ini punya toko buku. Tapi alamatnya di Depok. Alamak! Jauh kali, hiks! Jujur saja, setelah menikah saya memang seperti katak dalam tempurung.  Jarang ke mana-mana kalau tak terlalu penting. Tapi yang membuat lega, ternyata beliau juga menyertakan nomor HP atas nama Agung Pribadi yang bisa dihubungi jika berminat dengan barang yang dijual di tokonya, seperti buku, tas dan baju. Saya langsung save  nomor tersebut dengan nama kontak ‘Agung Asma’.

Semakin sering membaca statusnya, semakin membuat  saya terbakar oleh rasa ingin tahu. Seperti apa sih buku-buku yang selalu ia ambil cuplik dan pajang di status FB? Tanpa menunda lagi, saya pun SMS ke Mas Agung Pribadi. Ternyata Mas Agung responsif sekali. Tidak pakai lama SMS saya langsung dibalas.

Setelah bertanya tentang harga, ongkir segala macam, jadilah saya memesan buku produksi ANPH. Kalau tidak salah tiga sekaligus; Catatan Hati Seorang Istri, Catatan Hati yang Cemburu dan Sakinah Bersamamu. Dua hari kemudian buku yang saya pesan pun datang. Amboi, senangnya. Udah diskon, bukunya tebal-tebal pula. Yang paling berkesan, ada tanda tangan penulisnya loh!

Sejak saat itu saya seperti kecanduan buku ANPH. Berturut-turut saya membeli Think Dinar-nya Mas Endy Kurniawan, seri bacaan anak-anak untuk putri saya Nayla yang serinya lebih dari tiga buku, Jangan Bercerai Bunda, Catatan Hati Ibunda, Assalamualaikum Beijing, No Excuse, GGI, dan terakhir kemarin Salon Kepribadian. Meski belinya nyicil, Insya Allah koleksi saya bakal makin lengkap nantinya.

Selain mengikutinya di FP, saya juga memfollow beliau di Twitter. Karena jika di FP interaksinya terbatas, lewat akun Twitter justru lebih personal. Kalian tahu, saya sampai jingkrak-jingkrak saat beliau me-reply kicauan saya, walaupun cuma dengan kata “hehehe”. Dan yang paling norak saya meng-capture dan menjadikan gambar itu sebagai wallpaper HP! Aduh, gik bingit dih...:p

Setiap paket bukunya datang, saya begitu girang. Membayangkan seolah buku itu pengganti dirinya. Ah, saya cuma menyimpan angan-angan untuk bertemu beliau, seseorang yang tulisannya begitu menginspirasi dan mengajarkan saya, bagaimana harus bersikap saat dihadapkan dengan hiruk pikuk dan berbagai macam persoalan rumah tangga bersama suami.

Dan lewat statusnya saya jadi tahu ada grup menulis yang dibentuk oleh Pak Isa Alamsyah, suaminya, dengan nama Komunitas Bisa Menulis (KBM). Tanpa pikir panjang saya pun bergabung. Melalui grup ini, saya juga memenangkan kuis menulis berhadiah postcard dari Amerika juga buku, karena saat itu Asma Nadia sedang berada di sana mengikuti camp menulis di negara bagian Iowa, mewakili Indonesia. Lumayan menambah koleksi buku saya di lemari.

Dan 8 Februari kemarin, angan-angan saya jadi kenyataan. Meski sedikit kecewa tak bisa mengikuti seminar parenting yang dibawakannya akibat kesalahan teknis, koordinator kami telat datang ke lokasi.
Tapi sedih ini sedikit terobati karena Pak Isa ternyata pandai menciptakan peluang dan mengobati kekecewaan. Sambil menunggu seminar selesai, beliau pun memaparkan seluk beluk dunia penerbitan. Meski harus lesehan di emperan sekolah, tak mengurangi antusiasme kami yang mengerubungi Pak Isa, laksana lalat mengerumuni kaos kaki yang sudah dua bulan tak dicuci. (analoginya gak enak banget yak?)

Pukul 11 lewat. Treeeeeng , seminar pun kelar. Horreeeee...! Akhirnya bakal bertemu dengan sosok yang sangat ditunggu-tunggu. Tapi, ternyata tak semudah yang diperkirakan sebelumnya. Perempuan berjilbab pink itu cuma bisa saya nikmati punggungnya. Dia sangat sibuk menandatangani buku dan melayani pembeli yang ingin foto bareng. Hiks, saya pun hanya bisa menjepret dari sisi belakang saja, lumayanlah!

Kira-kira sepeminuman teh (hm, bahasa Wiro sableng keluar pemirtsahh!), akhirnya dia datang menghampiri. Semua warga KBM yang akhwat disalami dan cipika-cipiki. Saya  gak kebagian cipika-cipiki pertama karena terlalu nafsu mengabadikan dirinya via ponsel.

Terus tanpa buang waktu, beliau  to the point berkata, “Ayo, ayo, mau nanya apa?” Sementara tangannya tak berhenti menandatangani buku-buku yang tak habis-habisnya disodorkan oleh para ibu peserta seminar. Dan saya tetap fokus dengan HP di tangan, mengabadikan wajahnya dari setiap angle. Wajah bening tanpa polesan make-up. Sekilas mengingatkanku pada face-nya istri Datuk Anwar Ibrahim ; mungil, putih dan sipit.

Sedang asyik-asyiknya tanya jawab, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Membuat kami merapat ke tembok kelas agar tak kena percikan yang lumayan membuat lantai basah.

Entah bagaimana ceritanya, tak lama berselang tiba-tiba Pak Isa mengatakan bahwa pihak sekolah yang menjadi tuan rumah  diselenggarakannya seminar, memperbolehkan kami menggunakan ruang kepala sekolah  untuk melanjutkan tanya jawab yang tertunda tadi. Subhanallah, baiknya! Sudah tak jadi ikut seminar, tempat kopdarnya nebeng, eh sekarang malah diberi fasilitas gratis. Alhamdulillah!

Setelah Zuhur, diskusi kepenulisan pun dilanjutkan. Senang melihat dua manusia, Mbak Asma dan Pak Isa, begitu kompak memaparkan ilmu yang mereka punya. Saling menambah dan melengkapi informasi. Kadang ada saat di mana mereka saling bertatapan mesra. Aiiiihhh, romantisnya nek!

Pukul dua siang, kopdar pun selesai. Ditutup dengan foto bareng dengan beliau sebagai focus of interest. Akhirnya, di kesempatan ini saya bisa cipika-cipiki dengannya. Sambil tak lupa menyiapkan satu pertanyaan yang dibawa dari rumah; di cover buku Jangan Bercerai Bunda, apa benar itu Pak Isa yang di figura foto pengantin? Karena menurut saya jauh berbeda Pak Isa yang dulu dan sekarang. Jawab beliau, “Iya bener, itu Pak Isa.”

Pak Isa  yang merasa namanya disebut langsung kepo. Saat dijelaskan, beliau langsung berujar kesenangan,” Iya itu saya. Sekarang jadi tau kan, siapa yang ngejar-ngejar saya dulu??” Hahaha...(ah, laki-laki, di mana aja sama yak? Dipuji dikit langsung besar kepala, cape deh!)

Akhirnya kami pulang dengan hati senang tak terkira. Meski sebenarnya ada satu keinginan yang belum kesampaian tadi, foto berdua dengan Mbak Asma. Tapi tak apalah, mungkin lain kali.

Saat perjalanan pulang, iseng saya mengecek kembali foto-foto dan video yang telah di-save tadi. Lho, kok gak ada? Pada kemana yak? Foto-foto dan video tak satu pun tersimpan. Ternyata, HP modem yang saya bawa tak terpasang memori internalnya! Duh, udah gak foto berdua, foto jarak dekatnya tak tersimpan pula! Hua...hua...hua...#nangis darah!

Cikarang Pusat, Pertengahan Februari 2014

NB: foto di atas diambil saat workshop di Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik