Suami Workaholic


Jam tembok sudah di angka sembilan malam. Suami belum juga pulang. Khawatir menerjang. Kucoba meneleponnya. Tidak diangkat. Kuulangi lagi. Sama saja. Huh, kemana aja sih?

Biasanya kalau sedang shift pagi, jam setengah sembilan kendaraannya sudah meraung-raung minta dibukakan pagar yang terkunci. Apa mampir ke temannya? Ga mungkin! Suamiku pernah bilang,
katanya pulang kerja ga betah mampir-mampir jika tak terlalu penting. Waktunya pulang ya pulang. Dan sekarang, pikunnya kambuh. Kebiasaan, pulang telat lupa memberi kabar. 

Pukul sembilan lewat tiga belas menit. Terdengar deru motornya dari kejauhan. Alhamdulillahh, akhirnya lelakiku pulang juga.

"Kok pulangnya telat sih, Han?" Ucapku setelah mengecup takzim punggung tangannya. Rasa ingin tahu membuatku melanggar aturan, memberondong suami yang baru saja pulang dengan sebilah pertanyaan.

"Ayah meeting dulu tadi," suami berucap sambil menyangkutkan helmnya di atas spion.

"Meeting? Ayah ada event lagi? Ke mana?" Muka ini mendadak masam. Hati mulai berontak. Ah, ternyata ucapanku kemarin masih dianggap angin lalu oleh suamiku. Hiks..!

"Iya buat besok minggu, memangnya kenapa sih?" Suami hanya melongo melihatku yang ngeloyor masuk dan menghempaskan diri di sofa depan TV.

"Kan Bunda dah ngomong kemarin jangan ikut event dulu. Katanya badannya masih belum fit?" Suami hanya terdiam sambil membuka baju dan masuk ke kamar mandi, cuci kaki.

"Eventnya deket kok Bun,'"

"Tar kayak minggu lalu, event ke Bandung jam 10 malam belum nyampe rumah. Mana besoknya harus kerja."

"Sekarang gak jauh, cuma ke Jungle," 

Huh, tetap aja makan waktu lama di perjalanan, secara kalau sudah luar Jakarta, biasanya suami pulang di atas jam enam sore. Apalagi kalau sudah area Bogor, Puncak dan sekitarnya alamat pulang larut malam.

Hampir dua minggu lalu, suamiku jatuh sakit. Badannya panas. Ia pikir maagnya kumat. Ternyata saat berobat, dokter memvonis kena radang tenggorokan. Setelah minum obat berangsur kondisinya membaik dalam dua hari.

Rasanya sedih sekali melihat suami yang biasanya aktif, tiba-tiba tergolek tak berdaya. Senin sampai Sabtu dia bekerja. Pulang masih sibuk ngurusin proyek renovasi mesjid, mengkoordinir warga yang berencana memperbaiki jalan kompleks yang tak kunjung diperbaiki developer meski sudah berwujud kubangan lumpur. Lalu hari minggu yang seharusnya digunakan untuk family time malah terenggut untuk mengikuti event yang diadakan oleh EO tempatnya nyambi sebagai guide tour freelance. Jika tak ada event, dia sibuk bergelut di bengkel mebel yang dibuka bersama temannya.

Dan minggu ini untuk kali kedua ia ikut event setelah sakit kemarin. Aku sudah mewanti-wanti, jangan ikut event dulu, soalnya masih dalam tahap penyembuhan, harus totally bed rest. Suamiku bandel, dengan alasan ga enak nolak terus, karena dia termasuk crew senior di sana, partisipasinya sangat dibutuhkan. Sebelumnya dia pernah nolak berhubung masih belum pulih benar.

Aku hanya takut suamiku nge-drop lagi. Jujur aku tak suka melihatnya setelah sakit kemarin. Suami mendadak jadi dingin dan pendiaaaaaaam banget. Saat ditanya kenapa sikapnya jadi aneh, dia cuma beralasan masih belum fresh, lemes akibat sakit masih terasa. Itulah sebabnya, saat tahu dia bakal ikut event lagi aku tak setuju. 

Mungkin ia tak tahu. Saat terbaring lemah, sambil mengompres dahinya yang panas, tak sadar aku berucap dalam hati, 'Ya Allah, aku ga tega melihat suamiku sakit begini. Lebih baik aku saja yang sakit, jangan dia ya Allah.' Kalau aku yang sakit, paling hanya urusan rumah tangga yang terbengkalai. Tapi jika suamiku yang sakit, dampaknya lebih runyam. Tugas di tempat kerja tak bisa didelegasikan, karena dia harus bertanggung jawab mengawasi karyawan yang menjadi anak buahnya. Belum lagi urusan warga kompleks, usaha kami yang butuh campur tangannya, dan terutama waktu untuk keluarga.

Dan akibat 'permohonan' tak resmiku itu, ternyata Allah langsung mengijabah. Dua hari setelah suamiku baikan, giliran badanku yang ambruk dengan gejala yang sama, panas, kepala sakit, dan tenggorokan tak nyaman. Dan tak seperti suamiku yang berangsur sembuh, aku butuh waktu seminggu untuk pemulihan. Mungkin karena ketidak taatanku menelan obat dokter yang tak diminum total. Aku memang tidak terbiasa 'meracuni' diri sendiri. Jika akhirnya kumakan juga, itu karena sudah tak sanggup menahan sakit di belakang kepala yang mendera.

Sekarang setelah kejadian itu, aku berharap suami sadar untuk tak terlalu memforsir tenaganya untuk bekerja. Bagaimanapun juga, tubuhnya punya hak untuk istirahat. Dan itu hanya satu hari saja, hari Minggu. Jika hari libur yang sehari itu pun masih digunakan untuk bekerja sambil jalan-jalan gratis, wajar kan jika aku cemberut tak setuju. 

Memang sih fee yang ia dapatkan untuk kami juga, tapi bagiku tak ada artinya dibanding kesehatan suami. Meski di sisi lain aku sangat bersyukur punya suami pekerja keras, yang selalu berusaha untuk mencukupi keperluan anak istrinya.

Rasa-rasanya jika untuk alasan materi, aku merasa sudah cukup mendapatkan dari gaji suami. Meski tak banyak, tapi cukuplah untuk keperluan sebulan. Apalagi ada tambahan juga dari usaha suplai pulsa untuk karyawan dan usahaku berjualan produk plastik bermerk Tupper**re.

Jadi, sebenarnya dengan ikut event begini apa yang ia cari ? Ah, begini rasanya memisahkan suami dari pekerjaan yang dicintainya!

Aku hanya bisa berdoa, semoga Engkau tak bosan melimpahkan rejeki, kesehatan dan keselamatan pada kami sekeluarga, terutama suami hamba..Aamiinn..!

Cikarang Pusat 22 Februari 2014
#edisi libur sendirian di rumah lagi hiks

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik