Tontonan yang Menuntun, Mungkin Gak Sih?

Dulu, saat audisi film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) dimulai, saya begitu antusias mengikuti perkembangan beritanya. Betapa indahnya saat mengetahui bahwa audisi pemain yang dilakukan tak hanya berdasar pada kepintaran akting dan kebagusan rupa belaka, tapi lebih dititik beratkan pada kebaikan akhlak dan pengetahuan luas tentang Islam dan kefasihan mereka pada Al-Quran.

Subhanallah. Saya begitu senang di Indonesia akhirnya tercipta atmosfer entartainment berbasis reliji. Istilahnya tak hanya memperhatikan keuntungan dunia tapi juga menitikberatkan pesona akhirat. Saat
film itu diputar, lumayan sesuai dengan harapan saya. Di sana minim sekali adegan yang umumnya dilakukan dalam sebuah film, berpegangan atau bersentuhan yang bukan muhrim. 

Lalu entah mengapa, untuk selanjutnya saya seperti tertarik untuk mengikuti tindak tanduk para aktor dan aktris yang telah membintangi film tersebut. Dan ingin tahu seberapa teguhkah mereka memegang prinsip keislaman di dunia hiburan yang penuh godaan. Beberapa diantaranya membuat saya salut, mereka sanggup bertahan, istikomah bermain peran tanpa harus melepaskan prinsip yang mereka pegang teguh dalam pergaulan secara islam. Seperti Mba Oky Setiana Dewi, Meyda Sefira dan Kholid As'adil Alam. Saya belum pernah menyaksikan mereka bersentuhan dengan lawan jenis, meski cuma dalam sinetron. Walaupun dalam frame sebagai suami istri sekalipun. 

Tapi sayang, sisanya ada juga yang membuat saya kecewa. Saya hilang respek saat mendapati ada aktor yang mendukung film KCB, menyentuh dan memeluk wanita bukan muhrim lawan mainnya di sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Salah satu aktor tersebut bahkan punya trade mark sebagai aktor relijius. 

Bila di KCB mereka bisa begitu 'patuh' atas arahan sutradara untuk tak menyentuh lawan main yang bukan muhrimnya, kenapa saat beradegan di sinetron atau film lain mereka tak bisa istiqomah seperti Oky, Meyda dan Kholid misalnya? 

Dan saat kopdar KBM Bekasi tanggal 8 Februari kemarin, kami diberitahu Pak Isa bahwa Assalamu'alaikum Beijing akan dibuat versi layar lebarnya. Beliau juga menceritakan bagaimana proses novel tersebut 'dilamar' oleh beberapa rumah produksi sekaligus. Seketika saya pun menghayal, atau lebih tepatnya berharap besar, semoga saja saat audisi pemain filmnya nanti, Mba Asma diberi hak prerogatif untuk menentukan siapa saja yang pantas memerankan karakter Asmara, Zhongwen, Dewa, dan Anita. 

Kalau perlu diberi persyaratan bahwa diutamakan yang muhrim atau suami isteri. Sehingga di filmnya nanti, tak saya temui adegan-adegan tak islami, sehingga tak mencederai isi novelnya sendiri yang  memberi kesan pergaulan sehat antara lelaki dan perempuan. Kalaupun ada, akan lebih indah jika karakter Asmara dan Zhongwen benar-benar diperankan oleh suami isteri. Semoga..ˆ ⌣ ˆ

Cikarang Pusat, Februari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik