Romantika Penulis Pemula



150 ribu! Ya, hanya 150 ribu honor yang saya dapatkan saat pertama kali artikel saya dimuat di sebuah majalah wanita. Tak banyak memang, tapi cukup membuat saya melonjak kegirangan. Bukan nominalnya yang membuat bahagia, tapi karena perasaan senang dan terharu saat karya kita diakui dan pantas dimuat di sebuah majalah berskala nasional.

Pertama kali aktif menulis tahun 2007. Saya yang sejak kecil memang hobi membaca, entah kenapa
mulai suka menulis apa saja ide yang berkecamuk di kepala.  Padahal saat sekolah dulu saya tak terbiasa mengisi diari. Yang paling sering adalah menuliskan kembali mimpi. Saya jarang tidur dalam keadaan tanpa mimpi.

Saat itu jangankan notebook canggih, mesin tik butut pun saya tak mampu untuk membeli. Setiap sholat dengan penuh harap saya selalu berdoa, semoga Allah memberi kelebihan rejeki di masa yang akan datang, agar bisa membeli komputer idaman.

Sebulan dua bulan komputer yang diinginkan belum juga terbeli. Gaji sebulan tak bersisa, habis tergerus untuk keperluan rumah tangga. Bayar kontrakan yang kamar mandinya banyak kecoa, cicilan kendaraan super murah untuk suami berangkat kerja, kirim uang ‘pelancar’ kasih sayang ke mertua, beli kado buat tetangga yang mengadakan pesta ultah anaknya yang seringkali tak ingat tanggal dan waktu, saat di dompet hanya tersisa lembaran 20 ribu!!

Alamak! Kapan beli komputernya kalau begini? Padahal dengan PD-nya dalam anggaran pengeluaran telah tertulis manis di deretan pos terakhir; cicilan Pentium III!

Tak muluk-muluk, saya hanya ingin punya sarana untuk mengetik dan menyimpan buah pikiran berupa tulisan, yang sering membuat saya insomnia. HP butut yang selama ini digunakan untuk mengetik saat ide datang tiba-tiba, lebih banyak membuat saya berurai air mata, karena terlalu sering error. Displaynya mendadak muncul kabut asap, putih semua. Mengakibatkan ketikan yang sudah dibuat dengan susah payah jadi mendadak hilang tak bersisa! Hiks...!

Walhasil untuk sementara itu naskah cerpen atau artikel saya hanya bisa berkeliaran di antara buku agenda, ‘nyungsep’ di belakang kertas undangan rapat RT, bahkan beranak-pinak di balik sampul buku mewarnai milik putri tiga tahun saya. Owalah, sedihnya! Saya baru tahu ternyata begini rasanya jadi penulis amatiran pemula, hanya bermodalkan isi kepala, kere binti papa, sengsara dan hina dina hiks..hiks..(plis deh, sok miskin banget :p)
 
Dan ternyata memang benar. Manusia bisa jadi lebih kreatif justru apabila mereka dicekik oleh keterbatasan yang menghimpit. Saat menemukan kesempatan untuk mengikuti lomba menulis tentang dunia wanita di majalah Ummi, semangat saya kembali ke tahun ’45: berkobar dan membara.

Tapi saat membaca butir-butir persyaratan yang tertera saya jadi galau seketika. Di situ diharuskan naskah diketik rapi bukan dengan format tulisan tangan. Ya Tuhan, bagaimana ini? Warnet yang berada di ujung jalan kompleks selalu penuh dengan anak-anak dan orang dewasa yang bermain game online. Mau pinjam laptop tetangga, kok rasanya segan ya? Barang mahal seenaknya dipinjam, dikira ulekan apa? Kalau nekat pinjam takut rusak juga. Ngeri tak bisa mengganti. Tak menyerah dengan keadaan akhirnya naskah saya terlahir dengan tulisan tangan. Meski penuh dengan coretan dan tip ex di sana-sini. Saat itu saya mengambil tema pertentangan abadi sepanjang masa: menantu versus mertua.

Tak tega melihat istrinya gundah gulana, akhirnya suami tergerak hatinya untuk menawarkan diri membantu mengetikkan naskah tersebut dengan komputer fasilitas yang didapatnya  di tempat kerja. Alhamdulillah, saya pun bersorak sorai dan tersenyum sumringah. Ah suamiku, kau benar-benar tahu yang kumau!
 
Tapi sayang, senyum saya tak bisa terlalu lama mengembang. Naskah yang sudah diketik dan di print out itu terpaksa harus mengalami editing bolak-balik dan berulang-ulang, karena hasil ketikan suami tercinta begitu subhanallah, rusak parah! Hehehe...! Dengan penuh perjuangan,  lima hari kemudian, naskah tersebut akhirnya selesai juga. Siap-siap dikirim ke medan perang.

Tiga bulan sesudahnya saatnya pengumuman lomba. Alhamdulillah, nama saya tak tercantum di deretan tiga pemenang utama. Lho kok?? Iya betul! Karya saya ternyata tak masuk hitungan.
Bagi dewan juri, naskah saya mungkin memang tidak ada apa-apanya dibanding tulisan yang jadi juara. Tak apalah, batin saya menghibur. Kecewa sedikit, yang penting dengan ikut event ini, saya jadi punya pengalaman.  Jadi tahu bahwa karakteristik tulisan yang bagus ya seperti tulisan mereka itu.
Beberapa bulan kemudian, kabar gembira itu pun akhirnya saya terima. Naskah yang kemarin kalah dan saya pikir telah berakhir di tempat sampah, ternyata dimuat  juga, satu halaman penuh. Tulisan yang dibuat dengan susah payah itu  menjadi karya tulis pertama yang dimuat di media cetak.

Amboi senangnya! Bangga dan bahagia bisa melihat nama saya tercantum di halaman majalah yang dibaca di seluruh Indonesia. Walau honornya tak seberapa, tapi itu cukup menjadi cambuk bagi saya untuk terus menulis dan menulis meski dengan segala keterbatasan.

Jadi, buat teman-teman yang baru nyemplung di dunia kepenulisan, jangan patah semangat ya? Jangan sampai hasrat menulis kita dirampas oleh padatnya kesibukan. Tekad berkarya jangan dibiarkan terenggut oleh minimnya fasilitas yang kita punya. OK?? 

Kak Ning Mila
Cikarang Pusat, 4 Maret 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik