Bosan dengan Pasangan???

Pernah otak nyeleneh saya berpikir ekstrem. Asyik kali ya kalau punya remote control yang mengatur wajah suami bisa di-setting 'casingnya' 3x sehari? Bangun tidur tiba-tiba ada Mas Brad Pitt tergolek di pembaringan. Makan ketoprak sepiring berdua sama Akang Robert Pattinson. Malamnya
sebelum tidur, aih enaknya dipijitin Bang Orlando Bloom. Hahaha... (Pikiran sesat, jangan ditiru!)

Yup, November kemarin genap sembilan tahun kami menikah. Apakah itu sebuah prestasi? Saya tidak tahu. Tapi saya boleh sedikit bernafas lega, mengingat kasus perceraian yang meningkat akhir-akhir ini. Yang tak hanya menimpa pasangan yang baru beberapa bulan bahkan baru hitungan hari menikah, tapi juga pasutri yang sudah berpuluh-puluh tahun mengarungi biduk rumah tangga! Duuhh..!

Tapi maaf sekali! Sekarang saya sedang tak ingin membicarakan perceraian. Ngeri! Hanya ingin berbagi bagaimana menghadapi pernikahan yang bagi sebagian orang mungkin sangat membosankan. Termasuk saya!

Ya, benar! Membosankan! Coba bayangkan, saya harus menghadapi tingkah polah seseorang yang sama dalam jangka waktu yang lama! Berikut hal-hal menyebalkan yang menempel pada dirinya! Menikmati wajah yang itu-itu saja mulai bangun pagi sampai menjelang tidur lagi!
Awalnya memang terasa sangat berat. Harus hidup berdampingan dengan seseorang yang sifat, sikap, serta kebiasaan yang bertolak belakang dengan harapan saya tentang kriteria suami idaman saat gadis dulu. Apalagi ditambah pemandangan yang mendukung rasa bosan dari lingkungan sekitar. Suami Si A kok ganteng banget ya? Apalagi Si B, udah cakep, kaya pula. Dan Si C suaminya romantiiiiiiis banget. Kalau Si D, duuuuh, orangnya soleh, baik, benar-benar suami idola! Maunya tuh semua yang bagus-bagus pada suami tetangga, dibuat sepaket dalam diri suami! Maruk banget! :p

Oh ya, kembali ke masalah kebosanan tadi. Bagaimana cara membunuhnya? Atau dengan kata lain, bagaimana cara mempertahankan cinta yang tetap membara pada pasangan. Ada beberapa hal yang sudah saya terapkan dan terbukti manjur sampai sekarang.

1. Sentuhan tak terduga.
 Ini aktivitas di luar 'ritual' wajib pasutri. Bisa berupa genggaman tangan saat nonton TV, mengecup pipi ketika dia mau mandi, atau tiba-tiba memeluknya lama saat akan berangkat kerja. Dan yang paling menyenangkan adalah ciuman yang dicuri agar luput dari perhatian putri 8 tahun kami! Karena kalau ketahuan, pasti dia bilang begini,"Bosen ah, Ayah Bunda pacaran melulu!" Ternyata asyik juga ya dicemburui anak gadis sendiri!

2. Saya tidak menikahi malaikat.

Ini yang saya tanamkan pada diri sendiri setiap kali menemukan kesalahan pada suami. Dengan harapan agar lebih mudah memaafkan dan tak gampang menyalahkan. Tak masalah berbuat salah, selama dia bisa belajar dari kesalahannya dan berbuat lebih baik dari sebelumnya. Toh, saya juga tak sepenuhnya bersikap selalu benar!

3. Belajar dari istri-istri yang kurang beruntung.
Entah karena bercerai, meninggal ataupun ditelantarkan suami. Buku-buku Mbak Asma Nadia saya anggap sebagai konselor pernikahan paling handal yang bisa membuat saya terus bersyukur tak mengalami hal seperti itu. Menjadi wanita paling beruntung karena dianugerahi suami seperti yang saya miliki sekarang! Terima kasih buat Mbak Asma, yang karyanya membuat saya makin mencintai suami lebih dari sebelumnya!(ehm..ehm..;p)

4. Kita tak tahu kapan ajal menjemput.
Bukannya berandai-andai buruk, hanya saja dengan berpikir demikian, saya merasa kebersamaan dengan suami menjadi sangat berharga dibanding harus dilewatkan dengan marah, cemburu apalagi benci berlama-lama. Membuat setiap momen apa saja, menjadi hal terakhir yang bisa saya lakukan dengannya.

Apa lagi ya? Hm, satu lagi! Obat pembunuh bosan yang terakhir adalah pikirkan bahwa suami adalah ladang amal kita yang terbesar. Betul, kadang kebosanan itu tak terelakkan karena melakukan rutinitas itu-itu saja setiap hari, misalnya mencuci, memasak, menyetrika, merapikan rumah, mengurus anak dsb.

Tapi tahukah anda bahwa setiap aktivitas pengabdian yang kita lakukan di atas, terselip pahala yang luar biasa banyaknya. Bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga mengalirkan pahala bagi orang tua kita! Bahkan dalam hal yang paling kecil sekali pun itu bernilai ibadah!

Saya pernah baca bahwa mencium tangan suami yang baru saja pulang menunaikan shalat Jum'at, pahalanya sama dengan mencium Hajar Aswad! Memberi segelas air minum saat suami baru tiba setelah seharian bekerja, seperti mendapatkan pahala umroh/haji. Subhanallah! Apalagi saat tahu bahwa ternyata bidadari-bidadari surga itu cemburu bukan main dengan para istri dari lelaki muslim di dunia. Hm, indahnya dicemburui bidadari surga!

Jika teringat akan semua 'reward' di atas, penat lelah seakan menguap begitu saja, berganti dengan bangga dan bahagia karena mampu mempersembahkan pengabdian terbaik untuk suami dan keluarga tercinta.

Seiring waktu, semua faktor pemicu kebosanan alhamdulillah perlahan bisa diatasi. Dan ternyata justru semua perbedaan itulah yang membuat rumah tangga kami berwarna. Warna yang membuat saya lebih dewasa dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam hiruk-pikuk problematika rumah tangga.
Semoga Allah selalu memberikan curahan rahmat dan ridho-Nya bagi keluarga kecil kami, selalu merasa cukup walau tanpa harta berlimpah dan tetap bersyukur dengan sekecil apa pun karunia yang dititipkan oleh-Nya, aamiin!

Jadi, masih bosan dengan pasangan??

Cikarang Pusat, Desember 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Memblokir Teman dan Memutus Silaturahim

Bayi-bayi yang Disulap Menjadi Keripik