Postingan

Gara-gara Benda Itu, Saya Sering Dianggap Belagu

Gambar
Ada satu benda yang tak boleh ketinggalan jika saya bepergian. Ketiadaannya dijamin membuat saya uring-uringan. Belum apa-apa sudah terbayang efek yang bakal dirasakan kemudian. Kepala sakit. Bagian alis terasa tebal dan berdenyut-denyut. Belum hilang jika mata tak segera diistirahatkan alias tidur secepat mungkin.Benda apa itu?Yep, kacamata hitam.  Ini satu benda yang wajib menemani jika bepergian di siang hari. Kadang cuma ke blok sebelah saja saya sibuk mencari kacamata yang kadang lupa disimpan di mana.Yang paling enggak enak kalau pas pergi pakai angkutan umum. Saya pulang mengajar biasanya di atas jam 10 saat cuaca dan udara sedang panas-panasnya. Begitu keluar pagar sekolah, biasanya kacamata langsung saya pasang. Pesan ojol dan segera meluncur ke perempatan Jl.Jarakosta dan Kalimalang. Menunggu koasi 61 yang ke arah Tegal Gede/Jababeka.Sayangnya, Koasi 61 di jalur ini enggak setiap menit lewat. Biasanya 10 menit sekali. Proses menunggu inilah yang kadang menyiksa jika saya tak…

Penulis versus Pembaca Cerdas

Kata mentor saya di sebuah grup kepenulisan, saat menulis cerita, posisikan pembaca sebagai pembaca yang cerdas, dalam artian mau mikir secara tepat, kilat dan nggak banyak tanya dalam memahami cerita yang disuguhkan.
Kalau dalam film tuh biasanya ada adegan tanpa dialog ya? Misal ada gambar mata depresi di kamar mandi, kran mengucur, kemudian ada bungkus silet di wastafel lalu  penampakan darah mengalir. Tanpa dinarasikan pun penonton tahu apa yang terjadi.  Jadi kalau masih protes kenapa si tokoh tahu-tahu sudah di peti mati, penonton kek gini mending dikulkasin aja sih! Biar makin  beku, wkwkwk
Nah, kalau pembaca cerdas tuh seperti apa sih? Dalam memahami konstruksi cerita yang kita buat, mereka tidak manja, tak butuh banyak detail, tak menuntut lanjaran serta deskripsi yang teramat telanjang dan benderang. Jadi tak perlu narasi bertele-tele yang menjelaskan detail kejadian secara rinci dan gamblang. Readers like this know the story so well. Althought tiniest hidden clue we put in …

Kenapa Generasi Milenial Begitu Lengket dengan Gadget?

Gambar
Mungkin saya dan  sebagian besar ibu-ibu sekarang banyak yang heran ya, kenapa sih anak-anak kekinian begitu tergila-gila dengan gawai? Rasanya memang bukan pemandangan aneh lagi, kids zaman now begitu lihai mengoperasikan gawai. Bahkan kadang kemampuan dan kecepatan mereka menyerap pengetahuan tentang ini, bisa melebihi orang tuanya sendiri. Mau buka aplikasi belanja dan  daftar lapak daring aja emaknya masih terbata-bata, mereka sudah lebih dulu  melesat mengunduh beragam permainan, video serta mengutak-atik macam-macam aplikasi  bawaan yang tersedia di smartphone. Saya pernah menemukan seorang anak sedang sendiri dan menangis tersedu-sedu. Saya pikir ia sedang sedih karena dimarah sang ibu. Selidik punya selidik, oh rupanya ia berurai air mata karena HP yang ia pegang tak ada kuota. WkwkwkSaat mengikuti kajian di mesjid perumahan, saya menemukan  sedikit jawaban  lewat cerita ustad yang mengisi kajian.Kata beliau, dulu saat dunia kita belum semarak dengan kehadiran gawai dan media …

Si Jenius yang Hidupnya tak Berakhir Manis

Gambar
Pernah dengar istilah NervousBreakdown? Iseng saya membuka buku lama bekas catatan kuliah dulu. Isinya rupa-rupa. Mulai dari info untuk keperluan review film di blog, informasi berbagai tempat menarik sebagai latar cerita fiksi, macam-macam quote, macam-macam resep dllDi salah satu halaman saya menemukan sebuah catatan yang berbunyi, "W. James Sidis, manusia terjenius abad 20 namun di masa tua menderita Nervous Breakdown (keengganan untuk berpikir lagi). Sepertinya info ini saya salin dari cuitannya @Fakta Google deh!Saya jadi penasaran siapa James Sidis? Penyakit apa pula NervousBreakdown itu?Setelah browsing, wah saya baru tahu kalau ternyata James Sidis ini wajahnya ganteng sekali! *malah galfok! 🙊Setelah baca sana-sini, terkuak kalau William James Sidis ini adalah manusia paling jenius di bumi. Lahir tahun 1898, tinggal di Amerika yang mana keluarganya merupakan imigran dari Rusia. Kepintaran Sidis kabarnya bahkan di atas Da Vinci, Einstein dan Newton dengan perkiraan IQ di …

Pilih Mayor, SP atau Indie?

Gambar
Setelah mengetahui sedikit tentang dunia penerbitan, membuat saya jadi paham bahwa perkara menerbitkan buku tak semudah yang pernah dibayangkan sebelumnya. Buku yang sudah terbit bukan akhir dari segala perjuangan setelah berlelah-lelah menulis naskah di dalamnya. Namun ada yang lebih penting dari itu, yakni keberlanjutan nasib dari buku itu sendiri. 


Duluuuu sekali, melihat buku kita terbit meski secara keroyokan alias berbentuk antologi di penerbit indie, senangnya bukan main. Padahal naskah kita cuma nyempil sehalaman dari ratusan nama kontributor wkwkwkwk. Seiring waktu, standar kepuasan rupanya meningkat. Sepertinya menerbitkan buku sendiri lebih menantang. Malu juga sih diledek senior begini, "Antologi mulu, kapan solonya?" *gigitknalpot
Pertanyaannya, calon buku solo kita mau diterbitkan di mana?  Diajukan ke penerbit mayorkah? Atau dibukukan secara self publishing? Atau mengajukan naskah ke penerbit indie dan diterbitkan secara gratis meski dengan cetakan ala kadarn…

14 Negara tanpa Social Media

Gambar
Hari ini gossipnya sih Facebook bakal diblokir dan ditenggelamkan untuk wilayah Indonesia. Ini menyusul kasus bocornya data pengguna Facebook ke sejumlah pihak. Padahal jejaring sosial ini merupakan media sosial terfavorit yang sudah diakses jutaan penduduk Indonesia dari berbagai strata.



Selain data yang bocor (mungkin lupa dipakein pembalut kali ya?😅) maraknya ujaran kebencian dan berita hoax yang gencar berseliweran juga dianggap pemicu rencana tindakan pemblokiran dari pemerintah. 
Tapi, faktanya Facebook masih bisa

Cernak yang Susah-Susah Enak

Gambar
Melihat banyaknya event lomba dan maraknya penerimaan naskah khusus bacaan anak belakangan ini, lumayan bikin saya mupeng. Ingiiiin sekali  nulis cernak tapi ilmunya masih nol koma sembilan. Apalagi kudu ada panduan ilustrasi gitu. Hadeuh ... dari SD juga kalo disuruh gambar pasti keluar lukisan gunung dempet yang di tengahnya ngintip matahari terbit, udah. Diponten 6,5 doang girangnya bukan main😁

Ini di luar renjana saya sebenarnya. Saya terbiasa bikin cerita pendek untuk kategori pembaca remaja ke